jkw_ps

Inilah yang ditunggu-tunggu oleh seluruh rakyat Indonesia. Dua orang Capres yang selama ini dikesankan berseteru, pagi ini bertemu dalam suasana yang sejuk. Jokowi datang menemui Prabowo di kediamannya. Keduanya saling bersalaman, berpelukan, saling hormat, ketawa-ketawa dan senyum-senyum.

Prabowo sudah menunjukkan jiwa besarnya sebagai negarawan, Jokowi sudah menunjukkan kesantunannya sebagai orang yang lebih muda yang mengunjungi orang yang lebih tua, sekaligus seterunya dalam Pilpres.

Dengan melihat peristiwa yang menyejukkan hari ini, maka tidak perlu lagilah para pendukung keduanya saling buli membuli dan olok mengolok lagi. Selama ini yang terus membuli dan mengolok-olok adalah para pendukung kedua capres tersebut yang umumnya orang terpelajar. Mereka, para pembuli itu, memperlihatkan sifat yang bertolak belakang dengan kecendekiaannya yaitu merendahkan dan menghina orang lain. Mereka adalah orang-orang yang gagal move on.

Barangkali foto di atas adalah foto yang paling adem hari ini. Damailah Indonesiaku.

serah teriam kurban

Alhamdulillah, smoga kurban yang kami lakukan tahun ini  (5 Oktober 2014 / 10 Dzulhijah 1435H) penuh makna dan keberkahan. Semoga senantiasa dilancarkan dan dimasukkan ke dalam golongan orang-orang yang bersyukur kepada Sang Robb…Aamiin..YRA

Hadits Zaid ibn Arqam, ia berkata atau mereka berkata: “Wahai Rasulullah SAW, apakah kurban itu?” Rasulullah menjawab: “Kurban adalah sunahnya bapak kalian, Nabi Ibrahim.” Mereka menjawab: “Apa keutamaan yang kami akan peroleh dengan kurban itu?” Rasulullah menjawab: “Setiap satu helai rambutnya adalah satu kebaikan.” Mereka menjawab: “Kalau bulu-

bulunya?” Rasulullah menjawab:  “Setiap satu helai bulunya juga satu  kebaikan.” HR. Ahmad dan ibn Majah..

Semoga kita semua termasuk orang-orang yang bersyukur, mari kita berqurban…percayalah, rezeki dari ALLOH berlimpah, gak akan berkurang karena berqurban.
Mudah-mudahan tiap tahun diberi kesempatan berqurban aaaamiiin.

rip democrazy

Apa mau dikata, Demokrasi di negeri ini serapuh kayu lapuk. Sejak Jokowi menang kira-kira sebulan yang lalu, arus politik diluar partai pendukung pemenang pilpres sepertinya dipenuhi kepanikan untuk menciptakan perubahan secepat mungkin dan sedrastik mungkin, dengan tujuan untuk menjegal dan menghalangi bukan saja akses jokowi terhadap kekuasaan tapi juga supaya tidak muncul lagi Jokowi-Jokowi lain dimasa depan.

Namun satu hal yang perlu diingat dan disadari dalam demokrasi adalah kenyataan bahwa tidak ada yang permanen.

Suara rakyat bisa ditekan tapi tidak akan bisa dibendung selamanya. SBY masih bisa menolak menandatangani UU yang disahkan oleh DPR. Rakyat masih bisa menuntut melalui Mahkamah Konstitusi. Kalaupun kedua langkah diatas tidak terjadi ataupun gagal, maka masih banyak cara-cara lain.

Namun kenyataan diatas tetap tidak mengurangkan rasa perih dan pedih bagi saya, yang berusia 22 tahun saat reformasi bergulir namun telah merasakan nikmatnya pemilihan secara langsung dan munculnya pemimpin-pemimpin yang orientasinya lebih pada kepentingan rakyat daripada partai pengusungnya. Mereka ini orang-orang tanpa koneksi dan bukan penjilat fungsionaris partai, yang sedihnya baru mulai muncul beberapa tahun belakangan setelah rakyat mulai memahami kekuatan yang mereka miliki dan figur pemimpin yang mereka cari. Mereka-mereka ini, boleh jadi akan langsung punah apabila UU Pilkada yang disahkan malam ini berjalan tanpa halangan dalam beberapa tahun kedepan.

Dengan begitu saja, suara kita dirampas. Kenyataannya mereka yang dulu bersujud syukur akan matinya Orde Baru justru menjadi bagian dari orang-orang yang malam ini bersyukur karena telah merampas suara rakyat.

Mungkin karena uang, mungkin karena mentalitas ternak yang hanya ingin makan rumput dan digembala sampai akhirnya disembelih, mungkin juga karena angan-angan kekuasaan.

Tapi untuk saya, mereka yang malam ini memilih mengembalikan Pilkada lewat DPRD melakukannya karena mereka takut pada suara Rakyat. Kemenangan Jokowi menggetarkan mereka yang sudah nyaman duduk di kursi senayan. Hanya dengan menjalani proses “kaderisasi” partai, lip service sana-sini dan menemui konstituen beberapa bulan sekali, mereka pikir mereka sudah bisa jadi pemimpin. Ya, pemimpin Partai dulu, setelah itu, mungkin jadi Presiden. Sebuah keniscayaan yang bukan lagi suatu kepastian setelah Jokowi, Risma, Ahok, yang masing-masing relatif bukan siapa-siapa, telah menjadi lebih populer dan berkuasa dimata rakyat daripada mereka.

Setelah malam ini, maka keniscayaan itu kembali menjadi absolut. Seorang ketua umum Partai kini hampir pasti jadi gubernur, seorang fungsionaris partai yang tak pernah bekerja untuk rakyat kini bisa dengan mudah menjadi Walikota. Namun satu hal yang luput dari pertimbangan mereka adalah ini kemenangan yang too little, too late sifatnya. Atau setidaknya, itu yang saya percayai. Rakyat sudah cukup sadar akan hak mereka, dan pemimpin-pemimpin yang lahir dari aspirasi rakyat kini telah cukup banyak. Secara tidak sadar mereka yang malam ini mendukung kembalinya pilkada lewat DPRD telah memperlihatkan lapuknya demokrasi kita, dan merekalah penyebabnya. Perlahan tapi pasti, seperti kayu yang dihempas ombak suara rakyat, mereka akan mati. Tersingkir, jadi debu. Atau setidaknya itu harapan saya, seorang rakyat yang merasa begitu tertusuk menyaksikan demokrasi mati di malam jumat.

pemilukada

Besok, 25 Septmber 2014, sidang paripurna DPR digelar mengenai RUU PILKADA…semoga yang terbaik yang diputuskan…

ARGUMENTASI yang mendukung pelaksanaan pemilihan kepala daerah melalui DPRD (pilkada tidak langsung) terbantahkan. Jika dirangkum, pendapat akademisi dan pegiat demokrasi pada intinya menyatakan, pertama, praktik politik uang masih akan berlangsung; penerimanya saja yang berbeda. Kedua, kekhawatiran meluasnya konflik sosial tidak didukung fakta-fakta lapangan yang kuat, hanya sebagian kecil pilkada yang berujung amuk massa; di beberapa pilkada memang ada terasa ketegangan antarkelompok masyarakat, tetapi langsung tak berbekas begitu pilkada usai. Ketiga, kerisauan mengenai biaya politik bisa disiasati dengan berbagai aturan, salah satunya mengenai pembatasan dana kampanye.

Sebaliknya, argumentasi yang mendukung keberlanjutan gagasan pilkada langsung tidak tersanggah dengan baik. Yang paling pokok, tentu saja, apa dasar filosofis yang mengesahkan partisipasi rakyat harus dikebiri, terutama dikaitkan dengan proses pendewasaan demokrasi di Tanah Air. Terlebih temuan sejumlah lembaga survei telah menegaskan sikap rakyat yang lebih mendukung pelaksanaan pilkada langsung. Jika para elite politik mengaku sebagai penyuara suara rakyat, bagaimana mereka bisa menjelaskan tindakan yang justru mengabaikan kehendak rakyat?

Manfaat pilkada langsung

Terlepas dari berbagai kekurangannya, pilkada langsung telah menghadirkan sosok-sosok pemimpin baru. Figur-figur seperti Jokowi, Ahok, Ridwan Kamil, Tri Rismaharini, Nurdin Abdullah, dan belakangan juga Bima Arya—untuk menyebut beberapa nama—mampu membangkitkan harapan rakyat dan memberikan warna baru dalam proses pembangunan di wilayahnya masing-masing. Sosok-sosok ini nyaris mustahil tampil menjadi pemimpin publik jika pilkada dilakukan secara tak langsung alias melalui DPRD.

Di beberapa daerah, pilkada langsung memang jadi pintu masuk berkecambahnya politik dinasti. Fenomena ini untuk sebagian kasus bisa dipahami ketika mempertimbangkan faktor figur dan konteks sosiologis masyarakatnya. Namun, secara umum, politik dinasti menerbitkan kekhawatiran, terutama mengenai kemajuan pembangunan di daerah tersebut. Akan tetapi, melalui pilkada tidak langsung yang bakal terjadi akan jauh lebih destruktif: politik kronisme yang bersinergi dengan kebutuhan para cukong. Pilkada tak langsung memudahkan dan meminimalkan biaya cukong untuk memenangkan calon-calon kepala daerah yang bersedia menghamba pada kepentingan bisnisnya.

Proses belajar berdemokrasi langsung selama sembilan tahun terakhir telah makin mendewasakan proses berdemokrasi. Hiruk-pikuk pilkada tak lagi terlalu memengaruhi aktivitas rutin ekonomi, budaya, dan sosial masyarakat. Sebagian besar masyarakat telah menganggap pilkada sebagai aktivitas biasa. Ini harus dibaca sebagai semakin memudarnya mitos pemilu (baca: pilkada) sebagai kejadian luar biasa dan memerlukan kewaspadaan serta atensi yang tinggi dengan segala bumbu proses pengamanannya, sebagaimana dikonstruksi Orde Baru.

Sebagai pemilih, rakyat telah kian merasakan manfaat praktis pilkada. Sebagaimana disebut Powell (2000), pemilih melakukan evaluasi atas kinerja petahana. Ketakpuasan (mungkin juga ketaksukaan) terhadap petahana ditunjukkan dengan cara memilih penantang meski memahami penantang dimaksud belum teruji kompetensinya sesuai tantangan pembangunan di daerahnya. Kemenangan Jokowi dalam Pilgub Jakarta 2012 sebagian bisa dijelaskan menurut pendekatan ini.

Namun, dalam banyak pilkada lain, rakyat menunjukkan fenomena ”choosing a good type” (Fearon, 1999). Rakyat melakukan interaksi antara menyeleksi kinerja dan juga mempertimbangkan integritas dan lebih selaras dengan preferensi publik. Dengan kata lain, sebagai pemilih, rakyat menyadari sulitnya menemukan ”superhero” atau sang ”satrio piningit”. Fenomena ini sebagian bisa menjelaskan kemenangan petahana yang kinerjanya sempat diragukan, sebagaimana dalam kasus kemenangan Aher-Deddy di Pilgub Jabar 2013 misalnya.

Bangkitkan kesadaran elite?

Pilkada langsung juga memberikan peluang bagi partai politik untuk mengasah keterampilan dan melakukan konsolidasi internal hingga tingkat akar rumput. Momen pilkada jadi momen antara di antara dua pemilu legislatif (dan presiden). Hanya saja sebagian besar parpol masih memanfaatkannya secara formal-legalistik melalui proses musyawarah/rapat kerja yang melibatkan pengurus tingkat bawah dalam menentukan calon kepala daerah yang mau diusung. Sejauh pengamatan, baru PKS-lah yang memanfaatkan momen pemilu (pilkada) untuk memperkuat jejaring kerja kadernya ke konstituen.

Dengan berbagai penjelasan di atas, cukup beralasan  jika perubahan sikap sejumlah parpol yang tiba-tiba kembali mengusung gagasan pilkada tak langsung menimbulkan spekulasi. Media massa mengasosiasikan parpol-parpol pengusung gagasan pilkada tak langsung ini dengan Koalisi Merah Putih.  Karena itu, upaya mewujudkan pilkada tak langsung pun dimaknai sebagai salah satu ”medan pertempuran” dalam konteks melanjutkan kontestasi Pilpres 2014 secara permanen lima tahun ke depan. Ini senapas dengan gagasan pembentukan pansus pilpres.

Terlepas dari spekulasi di atas, adakah pendorong lain yang membuat elite-elite parpol dari Koalisi Merah Putih merasa penting untuk mengembalikan pilkada secara tidak langsung, yang notabene menjadi momen mementahkan proses pendewasaan berdemokrasi di Tanah Air?

Meski tak terkatakan secara eksplisit, ada kesan kuat pokok gagasan menolak pilkada langsung merupakan upaya memelihara kesinambungan perkauman para elite lama. Elite lama dicirikan dari sikap ketakpercayaan terhadap kompetensi rakyat. Ketidakpercayaan ini bersumber dari pendapat bahwa rakyat adalah kumpulan orang yang tidak mengerti, tidak memiliki pengetahuan, mudah dipengaruhi, dimanipulasi, mudah dibujuk/disuap, tak punya visi, dan seterusnya. Intinya, rakyat seakan dianggap sebagai kumpulan orang ”bodoh” yang butuh arahan dan pencerahan dari elite. Bagi mereka, rakyat adalah kumpulan domba yang perlu dituntun dan bukannya yang memimpin. Cara berpikir ini sebangun dengan pernyataan Prabowo yang sempat berkata, ”singa tidak mungkin dipimpin oleh kambing”.

Ketidakpercayaan ini juga diimbuhi keengganan yang luar biasa karena pilkada langsung akan mengusik hegemoni elite lama. Pilkada dan juga pilpres telah membuka pintu bagi hadirnya orang-orang baru yang bukan berasal dari kalangan elite. Penolakan ini memang tak terucap secara eksplisit. Namun, dalam perbincangan informal, letupan-letupan pernyataan yang mewakili sikap ini mungkin sudah sering kita dengar. Ungkapan, ”Masak muka begitu jadi presiden” atau ”Dia itu siapa?” merepresentasikan sikap ini.

Logika parpol pengusung

Kesadaran elite yang terusik membangkitkan harga diri dan memori masa lalu di mana ”politik” sudah semestinya menjadi urusan para elite. Kalah-menang dalam pertarungan politik dianggap tak lebih sebagai pertandingan tenis. Sebab, pemenang atau yang kalah berasal dari kaum yang sama dan karena itu diasumsikan semua urusan lainnya, terutama bisnis, tetap bisa berjalan business as usual.

Dari enam parpol pendukung kembali gagasan pilkada tidak langsung, tiga di antaranya bisa dipahami.  Golkar dan PPP yang lama tumbuh di era Orde Baru adalah turunan dari sistem yang memelihara hegemoni politik melalui MPR (presiden) dan DPRD (kepala daerah). Gerindra, sebagaimana disebut Prabowo, tak lain merupakan partai yang memang lahir dari rahim Golkar. Yang sulit dipahami justru sikap PAN, Partai Demokrat, dan PKS.

PAN menahbiskan dirinya sebagai partai reformis. Sebagai partai reformis, PAN ingin mengubah politik jadi ruang terbuka dan demokratis sebagai antitesis demokrasi seolah-olah di era Orde Baru. Kengototan mengusung gagasan pilkada tidak langsung jelas menimbulkan pertanyaan. Jika dikaitkan dengan konteks Koalisi Merah Putih, jadi pertanyaan besar apakah mungkin PAN memang hendak jadi pihak yang berperan dalam memundurkan partisipasi politik rakyat atau mereka tengah tersandera perjanjian dengan Prabowo?

Demokrat (dalam hal ini SBY) sudah merasakan betul manfaat pemilu langsung. SBY mampu memenangi Pilpres 2004 setelah harus menerima kenyataan tersingkir dalam ”kontestasi elite” memperebutkan posisi wakil presiden ketika Megawati Soekarnoputri jadi presiden menggantikan Gus Dur pada 2001.  Bahwa kemudian calon-calon Demokrat kerap gagal dalam pilkada dalam lima tahun terakhir, mestinya justru jadi evaluasi internal. Terutama menyangkut pilihan-pilihan kandidat yang mereka sorongkan dan bukannya justru mengebiri partisipasi politik rakyat. Lagi pula, ini akan menjadi ”tinta merah” ketika publik mengenang SBY dalam lintasan sejarah republik ini.

PKS adalah partai yang sebelumnya ikut mendukung pilkada langsung, tetapi akhirnya ikut mengubah pilihan menjadi serupa dengan sikap Koalisi Merah Putih. Sebuah langkah mengejutkan mengingat PKS, selain lahir sebagai partai Orde Reformasi, juga partai yang dianggap berhasil membangun sistem saksi dalam pilkada langsung. Orang lalu bisa bertanya, apakah ada kaitan antara dukungan terhadap sistem pilkada zaman Orde Baru dan ide menjadikan Soeharto sebagai pahlawan?

Karena itu, pilihan Koalisi Merah Putih yang bersikeras mengusung pilkada untuk dikembalikan ke DPRD dapat dibaca sebagai bentuk perlawanan kaum elite. Itulah contoh momen perjuangan untuk mengembalikan ”daulat elite” dan sekaligus mengakhiri ”daulat rakyat”. Jika pilkada bisa dikembalikan menjadi tidak langsung, target selanjutnya bukan tak mungkin mengubah kembali pilpres menjadi pemilihan di tingkat MPR.

Apakah Indonesia akan mengalami kemunduran berdemokrasi secara sistematis? Terlalu dini menjawabnya. Yang sudah pasti, publik harus diingatkan dan digugah kembali untuk menyatakan sikapnya. Para elite politik memerlukan sebuah penolakan yang tegas. Ketika mereka membaca rakyat mudah diakali,  pilkada tak langsung akan menjadi kenyataan politik Indonesia dalam tahun-tahun mendatang. ●

pemecahan masalah

Setiap orang pasti punya masalah. Itu sudah pasti karena masalah memang menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Masalah adalah kesenjangan antara harapan dan kenyataan. Tidak semua yang kita inginkan bisa kita dapatkan pada waktunya. Terkadang keinginan itu terlambat jadi kenyataan bahkan tidak pernah terealisasi sama sekali.

Masalah apapun bentuknya, besar atau kecil, berat atau ringan bisa dipecahkan. Cara memecahkan masalah atau bahasa kerennya problem solving memiliki beberapa tahapan diantaranya yaitu:

1. Identifikasi Masalah
Buatlah deskripsi apa yang sebenarnya terjadi. Tulislah situasi dan kondisi sekarang yang menurut kita itu adalah sebuah masalah. Cobalah tanyakan dalam diri, apakah ini benar-benar sebuah masalah atau hanya kita sendiri yang mengada-adakan dan membesar-besarkan persoalan. Sesuatu yang sepele sering dianggap masalah itu yang sering terjadi.

Lihatlah apakah masalah ini akan berpengaruh terhadap diri kita atau tidak. Terus pengaruhnya apa. Semakin besar dampak masalah buat diri kita berarti masalah itu harus diprioritaskan. Masalah yang berdampak jangka panjang juga mesti diperhatikan. Tanpa disadari kita “memelihara” masalah karena efeknya belum terasa saat ini. Ada kebiasaan yang kita anggap hal biasa padahal bisa jadi masalah di masa yang akan datang. Misalnya merokok.

2. Cari Akar Masalah
Apa yang nampak di permukaan belum tentu sama dengan apa yang ada di dalam. Kita harus mencari sumber atau asal permasalahan yang sudah kita identifikasikan di langkah pertama tadi. Misalnya kulit kita gatal karena digigit nyamuk. Masalah yang nampak adalah rasa gatal. Solusi yang diambil mungkin hanya dengan mengoleskan salep anti gatal. Nyamuknya akan terus berkeliaran dan mungkin akan menggigit lagi. Jika kita tahu akar masalahnya, nyamuknya juga harus diberantas.

Begitu juga dengan permasalahan yang kita alami. Diuraikan dulu dengan jelas, ditelusuri hingga ditemukan sumbernya. Jika kita sudah bisa mengidentifikasi dan menemukan akar masalah, 50% permasalahan kita sudah bisa dianggap selesai. Tentu saja proses ini tidak mudah dilakukan. Perlu waktu dan kejernihan berpikir agar bisa obyektif dalam menilai permasalahan.

3. Buat Alternatif Pemecahan Masalah
Setelah tahu masalah apa yang sebenarnya terjadi dan sumbernya darimana, buatlah beberapa alternatif pemecahan masalah yang mungkin dilakukan. Tulislah cara-cara pemecahan masalah itu dengan tahapan-tahapannya. Apa saja langkah yang perlu diambil agar masalah tersebut bisa terselesaikan. Jangan lupa tuliskan juga resiko, waktu yang harus ditempuh dan tingkat kesulitannya.

Susunlah alternatif pemecahan masalah itu sesuai dengan urutan. Cara penyelesaian yang paling kecil resikonya, waktunya sedikit dan mudah dilaksanakan ditaruh di urutan pertama. Begitu terus diurutkan hingga yang terakhir. Jika masalah kita berhubungan dengan orang lain, usahakan bisa win-win solution. Jika tidak bisa sama-sama menang, pilihlah yang resikonya paling kecil.

4. Laksanakan pilihan terbaik dari alternatif pemecahan masalah
Pilihlah satu alternatif pemecahan masalah yang sudah kita susun. Laksanakan pilihan tersebut. Selesaikan masalah dengan tuntas. Jangan sampai kita menyelesaikan masalah tapi menimbulkan masalah baru. Kita harus meniru slogan salah satu perusahaan BUMN yaitu “menyelesaikan masalah tanpa masalah”.

Terkadang ada resiko yang harus kita terima ketika ingin menyelesaikan masalah. Siapkan diri menerima resiko tersebut jika mau masalah kita selesai dengan tuntas. Resiko tak bisa dihindari tapi harus dihadapi. Entah resiko itu berupa dimusuhi dan dijauhi oleh teman atau bahkan harus pindah dari lingkungan. Misalnya ada seorang remaja yang menjadi pengguna narkoba karena terpengaruh teman-teman dan lingkungannya. Salah satu solusinya adalah dia harus menjauhi mereka. Jika perlu pindah ke tempat lain yang lebih kondusif.

Selamat menyelesaikan masalah…

falsafah jawa

10 filosofi hidup falsafah jawa

1. Urip Iku Urup (Hidup itu Nyala, Hidup itu hendaknya memberi manfaat bagi orang lain disekitar kita, semakin besar manfaat yang bisa kita berikan tentu akan lebih baik)

2. Memayu Hayuning Bawono, Ambrasto dhur angkoro (Manusia hidup di dunia harus mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan; serta memberantas sifat angkara murka, serakah dan tamak).

3. Suro Diro Joyoningrat, Lebur Dening Pangastuti (segala sifat keras hati, picik, angkara murka, hanya bisa dikalahkan dengan sikap bijak, lembut hati dan sabar)

4. Ngluruk Tanpo Bolo, Menang Tanpo Ngasorake, Sekti Tanpo Aji-Aji, Sugih Tanpo Bondho (Berjuang tanpa perlu membawa massa; Menang tanpa merendahkan atau mempermalukan; Berwibawa tanpa mengandalkan kekuasaan, kekuatan; kekayaan atau keturunan; Kaya tanpa didasari kebendaan)

5. Datan Serik Lamun Ketaman, Datan Susah Lamun Kelangan (Jangan gampang sakit hati manakala musibah
menimpa diri; Jangan sedih manakala kehilangan sesuatu).

6. Aja Gumunan, Aja Getunan, Aja Kagetan, Aja Aleman (Jangan mudah terheran-heran; Jangan mudah menyesal; Jangan mudah terkejut; Jangan mudah kolokan atau manja).

7. Aja Ketungkul Marang Kalungguhan, Kadonyan lan Kemareman (Janganlah terobsesi atau terkungkung oleh keinginan untuk memperoleh kedudukan, kebendaan dan kepuasan duniawi).

8. Aja Keminter Mundak Keblinger, Aja Cidra Mundak Ciloko (Jangan merasa paling pandai agar tidak salah arah;Jangan suka berbuat curang agar tidak celaka).

9. Aja Milik Barang Kang elok, Aja Mangro Mundak Kendo (Jangan tergiur oleh hal-hal yang tampak mewah, cantik, indah; Jangan berfikir mendua agar tidak kendor niat dan kendor semangat).

10. Aja Adigang, Adigung, Adiguna (Jangan sok kuasa, sok besar, sok sakti)

******************^;^***************
Filosofi diatas aku dapat dari share BBM seorang teman, maka aku keep di sini karena cukup kuat maknanya dan berarti untuk pegangan menjalani hidup.

Menurutku tidak harus orang jawa saja tapi juga semua orang yang hidup diatas dunia ini, yang sama sama kita huni dibelahan masing masing bisa untuk atau hidup seperti filosfi diatas.

Menghargai sesama dan alam tempat kita bernaung, menjaga keseimbangan alam, membuat kehidupan selaras dan bermakna bagi satu sama lain, alangkah indahnya KEDAMAIAN yang hadir dalam kehidupan ini. Kesadaran sebagai manusia yang punyai hati untuk sama sama menjaga sikap.

Apakah ini suatu mimpi jika menginginkan kita sedapat mungkin bersikap seperti filosi diatas pada jaman sekarang ini, yang serba carut marut dan seringkali tidak menghargai satu sama lain asalkan tercapai semua keinginan pribadi?
Suatu pertanyaan yang cukup panjang untuk kita renungkan, kita perlu “Andhap Asor” untuk bisa turut melaksanakan filosofi tersebut.
Semoga…

syukur

Bismillahir RahmanirRahim
Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala aali Muhammad.
Tuhanku
Runtunan karunia-Mu telah melengahkan aku
untuk benar-benar bersyukur pada-Mu
Limpahan anugerah-Mu telah melemahkan aku
untuk menghitung pujian atas-Mu
Iringan ganjaran-Mu telah menyibukkan aku
untuk menyebut kemuliaan-Mu
Rangkaian bantuan-Mu telah melalaikan aku
untuk memperbanyak pujian pada-Mu

Inilah tempat orang yang mengakui limpahan nikmat
tetapi membalasnya tanpa terima kasih
yang menyaksikan kelalaian dan kealpaan dirinya
Padahal Engkau Maha Pengasih dan Maha Penyayang
Mahabaik dan Maha Pemurah
Yang tak kan mengecewakan pencari-Nya
Yang tak kan mengusir dari sisi-Nya pendamba-Nya

Di halaman-Mu singgah kafilah pengharap
Di serambi-Mu berhenti dambaan para pencari karunia
Janganlah membalas harapan kami dengan kekecewaan dan keputusasaan
Janganlah menutup kami dengan jubah keprihatinan dan keraguan

Ilahi
Besarnya nikmat-Mu mengecilkan rasa syukurku
Memudar, di samping limpahan anugerah-Mu, puji dan san¬jungku
Karunia-Mu yang berupa cahaya iman menutupku dengan pakaian kebesaran
Curahan anugerah-Mu membungkusku dengan busana kemuliaan
Pemberian-Mu merangkaikan padaku kalung yang tak terpecahkan
dan melingkari leherku dengan untaian yang tak teruraikan

Anugerah-Mu tak terhingga
sehingga kelu lidahku menyebutkannya
Karunia-Mu tak berbilang
sehingga lumpuh akalku memahaminya
apatah lagi menentukan luasnya

Bagaimana mungkin aku berhasil mensyukuri-Mu
karena rasa syukurku pada-Mu memerlukan syukur lagi
Setiap kali aku dapat mengucapkan: Bagi-Mu pujian
saat itu juga aku terdorong mengucapkan: Bagi-Mu pujian

Ilahi
Sebagaimana Engkau makmurkan kami dengan karunia-Mu
dan memelihara kami dengan pemberian-Mu
Sempurnakan bagi kami limpahan nikmat-Mu
Tolakkan dari kami kejelekan azab-Mu
Berikan pada kami, di dunia dan akhirat,
yang paling tinggi dan paling mulia lambat atau segera

Bagi-Mu pujian atas keindahan ujian-Mu dan limpahan kenikmatan-Mu
Bagi-Mu pujian yang selaras dengan ridha-Mu
yang sepadan dengan kebesaran kebajikan-Mu
Wahai Yang Maha Agung, Wahai Yang Maha Pemurah Dengan rakhmat-Mu
Ya Arhamar-Rahimin, Wahai Yang Paling Pengasih dari semua yang mengasihi

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.