Dalam kitab “Baina Yadai Ramadlan” disebutkan, bahwa di bulan Sya’ban inilah, -tepatnya tahun ke dua hijriyah-, penentuan arah Qiblat itu ditetapkan. Dimana sebelumnya, selama tujuh belas bulan berada di Madinah, Nabi SAW ketika sholat menghadap Al-Quds (Baitul Maqdis di Palestina), tetapi kemudian Allah SWT mengabulkan keinginan hati Nabi SAW, sehingga menghadap Qiblatnya berpindah ke arah Ka’bah (Masjidil Haram di Makkah Al-Mukarramah). Sebagaimana sebab turunnya surat al-Baqarah, ayat 144: “Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke Qiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram”.

 Itu di antara nilai sejarah yang ada di bulan Sya’ban. Berikut ini adalah pembicaraan berkenaan dengan bulan Sya’ban, serta fadlilah (keutaman)nya:

 Bulan yang sangat digemari Nabi untuk berpuasa.

 Diriwayatkan dari Aisyah RA, berkata; “Saya tidak melihat Rasulullah SAW berpuasa lengkap sebulan penuh kecuali di bulan Ramadlan. Dan saya tidak melihat yang banyak dipuasani Rasulullah SAW kecuali di bulan Sya’ban”. HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud dan lainnya.

Shahabat Anas bin Malik RA juga meriwayatkan, bahwa “Rasulullah SAW itu puasanya sedang-sedang aja, antara puasa dan tidaknya secara berimbang, di sepanjang tahunnya. Namun, ketika masuk bulan Sya’ban beliau tampak kelihatan rajin dalam menekuni puasanya”. HR Imam Ahmad dan Thabrani.

Dalam hal ini, Imam Ibnu Hajar menjelaskan hadits yang disebutkan di atas, bahwa hampir hari-hari di bulan Sya’ban ini dipuasani oleh Rasulullah.[1]

 Merangkaikannya dengan Ramadlan.

 Dari Aisyah RA berkata bahwa; “Di antara bulan-bulan yang sangat dicintai Nabi dalam melakukan puasa adalah di bulan Sya’ban, lalu menyambungkannya dengan bulan Ramadlan”. HR. Abu Dawud.

 Allah SWT telah memproklamirkan Pengampunan-Nya.

 Diriwayatkan dari Mu’adz bin Jabal RA bahwa Rasulullah SWT bersabda; “Pada malam Nisfu Sya’ban (pertengahan bulan Sya’ban), Allah SWT akan mengumumkan kepada sekalian manusia, bahwa Ia akan mengampuni orang-orang yang mau beristighfar (minta ampunan-Nya), kecuali kepada orang-orang yang menyekutukan-Nya, juga orang-orang yang suka mengadu domba (menciptakan api permusuhan) terhadap saudara muslim”. HR. Al-Thabrani dan Ibnu Hibban.

            Dalam riwayat lain dari Aisyah RA, disebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda; “Malaikat Jibril telah datang kepadaku, seraya berkata (memberikan informasi): Malam ini adalah malam Nisfu Sya’ban. Dan pada malam ini pula Allah akan membebaskan hamba-hamba-Nya dari api neraka. Namun Allah SWT akan membiarkan enam kelompok manusia tetap dalam neraka, karena telah melakukan dosa-dosa besar,  yaitu:

orang yang menyekutukannya (syirik),

 orang yang suka mengadu domba (menciptakan api permusuhan) terhadap saudara muslim.

 orang yang memutuskan tali shilaturrahmi (hubungan kekerabatan).

 orang yang sombong, yang berjalan dengan penuh keangkuhan.

 orang yang durhaka terhadap kedua orang tuanya.

 orang yang kecanduan minuman keras”. HR. Baihaqy.

   Amal Perbuatan manusia akan dilaporkan ke hadiran Allah SWT.

 Diriwayatkan dari Usamah bin Zaid RA berkata, “Wahai Rasulullah, saya lihat anda lebih bersemangat (lebih rajin) berpuasa di bulan Sya’ban ini, dibanding bulan-bulan lainnya. Mengapa (ada apa gerangan)?”. Nabi menjawab; “Karena Sya’ban ini bulan agung, yang banyak dilupakan orang. Padahal, di bulan inilah amal perbuatan manusia akan dinaikkan (dilaporkan) ke hadirat Allah. Kerena itu, saya ingin (lebih senang) bila di saat amalan-amalan itu diangkat (dihadirkan) kepada Allah, kondisi saya dalam keadaan puasa”. HR Nasa’i.[2]

Berkaitan dengan ini, para ulama menjelaskan akan perhatian dan begitu antusiasnya Nabi di bulan Sya’ban, dalam rangka menyambut bulan suci Ramadlan. Diantaranya, bila digambarkan adalah sbb:

Perhatian dan sayang Nabi SAW terhadap isteri-isterinya.

 Imam Ibnu Hajar menyebutkan, bahwa di antara hikmah (rahasia, mengapa) Rasulullah SAW memperbanyak puasanya di bulan Sya’ban adalah karena isteri-isterinya banyak yang menuntaskan tanggungan (menjalankan qadla puasa Ramadlan, karena berhalangan, haidl dan sebab-sebab lain) di bulan Sya’ban ini. Jadi, Nabi SAW tidak ingin terlalu merepotkan isteri-isterinya, kecuali menghormati dan bahkan menemani aktifitas ritual yang sedang dijalankan isteri-isterinya. Luar bisa, sikap dan cara Nabi SAW dalam memberikan semangat atau support terhadap isteri-isterinya.

Datang seseorang (Abu Dzarr ra) kepada Nabi saw dan bertanya :
“wahai Rasulullah, sedekah yang seperti apa yang paling besar pahalanya?”,
Sabda Rasulullah saw : “Yaitu Kau bersedekah sedangkan kau dalam keadaan sangat menjaga hartamu, sedang berhemat, sedang takut miskin, sedang ingin kaya dan berkecukupan, maka jangan kau tunda (menahan sedekah jika sedang demikian itu), hingga jika sudah sampai di akhir nafasmu di tenggorokanmu (disaat kematian) baru kau katakan hartaku untuk si fulan sekian, untuk si fulan sekian (saat itu sedekah sangat kecil pahalanya) (Shahih Bukhari)

ssalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ الْجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِيْ هَدَاناَ بِعَبْدِهِ الْمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ ناَدَانَا لَبَّيْكَ ياَ مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلّمَّ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِيْ جَمَعَنَا فِي هَذَا الْمَجْمَعِ اْلكَرِيْمِ وَفِيْ هَذَا الْجَمْعِ اْلعَظِيْمِ

Limpahan puji kehadirat Allah subhanahu wata’ala yang Maha luhur, yang Maha membuka gerbang gerbang keluhuran, yang demikian berpijar pengampunan Nya maka berpijarlah maaf Nya kepada hamba hamba lebih terang benderang dari pada kilat dan semua cahaya yang datang kepada hamba hamba Nya dan mengunjungi hamba hamba Nya yang mempunyai alat yang untuk menerima rahasia cahaya ilahi yaitu jiwa yang beriman, maka sanubari yang seperti ini siap menerima pijaran cahaya Rabbul’alamin subhanahu wata’ala dan Allah akan melimpahkan Rahmat dan keluhuran sampai kita berkumpul dimajelis ini, dibulan agung ini, dibulan Sya’ban al mukarom dibulan turunnya firman Allah :

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Sungguh Allah dan para Malaikat melimpahkan shalawat pada Nabi (Muhammad saw), wahai orang orang yg beriman, bershalawatlah pada beliau dan bersalam dg seindah indah salam” (QS Al Ahzab 56)
Ayat ini turun dibulan sya’ban, maka bulan ini adalah bulan kita memperbanyak shalawat kepada Sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, turunnya ayat ini adalah bahwa diriwayatkan didalam Shahih Bukhari bahwa para sahabat bertanya wahai Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam kami tau caranya bersalam kepadamu kami dah tau, dah di ajari, tapi bagaimana cara bershalawat kepadamu kami belum tahu?, sebelum Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, Allah lebih dahulu menjawab bahwa Allah berfirman :

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Sungguh Allah dan para Malaikat melimpahkan shalawat pada Nabi (Muhammad saw), wahai orang orang yg beriman, bershalawatlah pada beliau dan bersalam dg seindah indah salam” (QS Al Ahzab 56)

wahai para sahabat sebelum kalian bertanya tentang shalawat ketahuilah Allah dan malaikat melimpahkan shalawat kepada Sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, Allah melimpahkan shalawat berupa limpahan keberkahan bagi mereka yang membaca shalawat pada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, malaikat bershalawat pada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memohonkan kemuliaan bagi sang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan keluhuran dan pengampunan dosa bagi umat beliau dan dari dan dari kita adalah permohonan agar semakin diangkatnya derajat beliau.

lalu setelah Allah jelaskan wahai para sahabat Rasul yang bertanya bagaimana cara bershalawat ketahuilah sebelum kalian Tanya Aku dan para malaikat telah melimpahkan shalawat pada sayyidina Muhmmad shallallahu ‘alaihi wasallam ketahui itu keluhuran shalawat baru tau caranya shalawat lalu Allah jelaskan caranya :

يَا أَيُّهَا الَّذِ ينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Hai orang yang beriman bershalawatlah kalian kepada Nabi dan bersalamlah dg seindah indah salam”
Salam yang baik, jadi disini Allah mengajari, ketika sahabat bertanya bagaimana caranya bershalawat kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam Allah menjelaskan caranya bershalawat dan bersalam jangan dipisah jadi kalau shalawat jangan dipisah dengan salam pada Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam, demikian diajarkan oleh Allah

صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Shalawat kepada Nabi dan bersalam, kita dimana mana kan sering mengucap Allahumma shalli wasallim.. dst, atau shallahu alaihi wasallam, pasti sholli/shalawat dulu baru sallim/salam karena ayatnya begitu, shalawat dulu baru salam kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, shalawat tidak digabung dengan salam kecuali dalam shalat, didalam shalat salam dulu baru shalawat karena apa ?

salam itu langsung dihadapkan kepada Rasul diwaktu isra’ wal mi’raj oleh Allah

“ASSALAMUALAIKA AYYUHANNABIYUU WARAHMATULLAH WABARAKATUH.”
lalu dijawab oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam “ASSALAAMU ALAINAA WA ALAA IBAADILLAHISSHAALIHIIN“ Baru bersyahadat setelah itu baru shalawat kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam lalu Rasul ajari shalawat.

demikian. SAhabat yang dimuliakan Allah, rahasia kemuliaan shalawat itu berpijar bagi mereka yang membacanya dijelaskan bahwa Al imam Abdulhasan al syadziliy alaihi rahimahullah bahwa ketika suatu malam ia bermimpi bermimpi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam salah satu amalnya al imam abulhasan al syadziliy adalah shalawat 1000 kali siang, 1000 kali malam setiap harinya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, suatu malam ia bermimpi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bibirnya dicium oleh sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, maka ia berkata :“ya Rasulullah bibir pendosa macam aku, kau mencium bibirku ada apa? sampai kau menciumnya?”. Rasul Saw berkata : “aku tidak mencium bibir seseorang kecuali yang bershalawat kepada ku 1000 siang, 1000 malam atau lebih, bibir seperti itu pasti akan ku datangi dan ku cium bibirnya sebelum ia wafat”

demikian mulia Abul Hasan Assyadziliy alaihi rahmatullah, saya akan lanjutkan dalil penguatnya kelak setelah ini.

Demikian salah satu kemuliaan shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu di riwayatkan pula bahwa al Imam Jazuli yang membuat dala’il khairot Dala’il khairot itu di buat oleh al imam jazuli alaihi rahmatullah. Ketika ia menuliskan sejarah knp ia menulis shalawat yang demikian panjangnya, maka dia berkata

suatu siang aku lewati padang pasir bersama murid muridku kehabisan air, lewat ada satu sumur dekat perkampungan, kelihatan sumur kalau disana kan diketahui sumur untuk umum dengan sumur pribadi, ini semua di pinggir jalan untuk umum mereka mendekati sumur tidak ada embernya tidak ada talinya tidak ada pengeretnya timbanya tidak ada, dilihat air sumurnya ada dalam airnya, ini airnya terlalu dalam tapi timbanya tidak ada orang sini ngambilnya pakai apa? masa iya setiap kali mengambil air bawa timbanya?, di pasang talinya di pasang segala apa wilayah ini begitu?. mereka diam lalu saya lihat ada seorang wanita kecil, bunayyah putri kecil umur di bawah 10 tahun lagi bermain.

“Hai bunayyah putri kecil, anak kecil, bocah, wanita kecil ini timba nya kemana sumur ini, ini kan sumur umum?”, Dia berkata: “iya ini sumur umum kita tidak usah pakai timba disini”. “lalume ngambil air pakai apa?”. Anak kecil itu berkata : “begini caranya kami kalau ngambil air” lalu ia mendekati sumur lalu menaruh tangan nya di atas sumur air naik dari bawah terus sampai meluap di atas mulut sumur sampai mereka mengambil air selesai air turun lagi kebawah…!, Berkata Imam Jazuli : “laailaha illallahu muhammadurrasulullah, ini anak kecil putri kecil kok bilang begini??”, “Maka ditanya wahai anak kecil kau ini punya amalan apa?”, ia berkata : “aku Cuma di suruh ayah ibuku selain shalat selain berbicara tidak boleh berhenti dari shalawat kepada sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.”

Semua sekampung ini caranya ngambil air begitu..

Para sahabatku yang dimuliakan Allah,

Demikian keberkahan Shalawat kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, Allah limpahi keberkahan, wilayah itu kampung itu tidak pernah kesusahan air, itu kalau tidak pakai tadi tali ataupun timba tadi tidak sampai air namun orang butuh air dia datang,

Alhamdulillah sahabatku lebih lagi sekarang dibumi Jakarta dari kemuliaan dan keberkahan shalawat kepada Sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, kita dengar dimana mana didunia ini sedang pemanasan global, disaudi Arabia sudah 60 derajat diumumkan akan naik 70 derajat celcius, diseluruh wilayah air panas, kering, dan mereka dalam pemanasan global, Jakarta sudah diumumkan pemanasan global kita sudah mulai kepanasan, namun mulai malam 1 Rabi’ul Awal kita lihat hujan terus tidak berhenti menaungi Jakarta, keberkahan shalawat sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, makin makmurkan majelis dzikir, majelis ta’lim, majelis shalawat makin kita ditumpah ruahi oleh keberkahan dan doa kita diijabah.

Kita selalu berdo’a, Rabbiy kalau datang musim hujan jangan bawa hujan yang membawa musibah kalau datang musim kemarau, jangan membawa kemarau yang membawa musibah, jadikan kemarau yang membawa Rahmat, jadikan musim hujan yang membawa Rahmat, hujan sering datang ke Jakarta, tapi tidak besar besar seperti dulu, sampai membuat sebagian Jakarta tenggelam banjir, hujannya biasa biasa saja, sedikit banjir dimana mana, terus panas, panasnya juga tidak terlalu panas, Subhanallah.

Demikian keberkahan Shalawat, yang Allah firmankan :
“Kalau seandainya penduduk bumi di suatu wilayah itu bertaqwa, Allah limpahkan ke berkahan dari langit”
Ada apa di Jakarta? banyak yang maksiat, banyak yang zinah, tapi Jakarta Kota yang paling banyak Shalawat kepada Sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam

Para sahabatku yang di miliakan Allah,
Belum ada di dunia perkumpulan Maulid 12 Rabiul Awal di hadiri 1 juta muslimin muslimat di dunia belum pernah ada, sejak kebangkitan Rasul sampai saat ini, apa lagi di tambah dengan Dzikir, ya Allah 1000 kali, sambil berdo’a di hari 12 rabiul Awal di hadir muslimin dari golongan masyarakat rendah sampai pimpinan tertinggi, duduk berdzikir 1000 kali, di hari Maulidin Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

dan semoga hal ini semakin banyak dan semakin makmur, majelis – majelis Dzikir semuanya semoga semakin makmur, majelis Ta’lim, majelis – majelis maulid, majelis shalawat semakin makmur Jakarta semakin makmur.

Semua wilayah barat dan Timur juga muslimin muslimat,
Kita bangkitkan jiwa mereka untuk bershalawat, Dzikir dan majelis Ta’limnya hingga wilayahnya masing – masing makmur. Amin Allahumma amin.

Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda di riwayatkan di dalam Shahih Muslim
“Barang siapa yang bershalawat kepadaku sekali Allah limpahkan Shalawatnya sepuluh kali”
Bukan Rasul, tapi Allah….

Dijelaskan oleh para Imam kita seandainya kita berusaha 1000 tahun dan tidak berhenti shalawat sepanjang 1000 tahun belum menyamai 1 shalawat nya Allah, ini 10 kalau kita shalawat sekali, hadits ini sudah menuntut seluruh kemuliaan, kita dengar Imam Abdul Hasan Assyfii gimana kalau 1000 kali siang seribu kali malam? Berarti 10 ribu Allah limpahkan shalawat untuknya di siang hari 10 ribu untuknya di malam hari dari Rabbul’alamin.

Pantas bibirnya di cium sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam,

Para sahabatku yang di muliakan Allah,
Demikian juga putri kecil itu, kalau tidak di ajak bicara, tidak lagi shalat, tidak lagi tidur, tidak lagi aktifitas, bibirnya tidak berhenti membaca shalawat pada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, berapa ratus ribu ia shalawat pada Rasul setiap hari, pantas kalau Allah jadikan dia menginginkan air, air datang.

Jakarta saja baru sedikit orang yang berkumpul, Allah bawakan hujan yang tidak membawa musibah, Allah naungi tidak kepanasan, dunia lain terkena pemanasan Gelobal, Jakarta Alhamdulillah aman, dan damai, semoga semakin damai, semakin aman, semakin berkah, semakin makmur, hadirin dan seluruh wilayah sekitar, saudara saudari kita yang melihat di Streaming cemburu dengan wilayah Jakarta, hidupkan, wilayah masing masing dengan majelis Dzikir, majelis ta’lim.

Para sahabatku  yang dimuliakan Allah,
karena ini keberkahaan, 10 orang, 100 orang, 1000 orang nanti makin banyak, majelis Rasulullah dulu yang hadir malah 4 orang 9 orang saja Cuma 9 orang setiap malam selasa, sekarang kalau cuaca yang baik bisa 50.000 yang hadir malam selasa, setiap malam selasa, malam lainnya 5000, 10.000, 50.000, keberkahan dari pada Dakwah sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. 

Para sahabatku, jika bulan sya’ban ini adalah kejadian perang ta’buk yang terjadi pada tahun 9 hijriyah di bulan sya’ban diriwayatkan didalam shahih Bukhari bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam keluar menuju Tabuk pada hari kamis, keluarnya hari kamis dan Rasul menyukai kalau mushafir, kalau keluar kota senang hari kamis walaupun sering hari lain, dan beliau senang kalau keluar kota itu hari kamis lebih Beliau senangi daripada hari lainnya. Didalam tafsir imam ibn hisyam dan juga didalam Fathul Baari bisharah Shahih Bukhari juga dijelaskan didalam riwayat lainnya bahwa kejadian perang Tabuk adalah di Bulan Sya’ban dimana saat itu disebut “perang sulit” (Ghazwatul ‘Usrah). Atau Juyushul ‘Usrah yaitu pasukan yang sangat sulit, dimasa yang sangat sulit karena saat itu sedang panas yang sangat terik yang membuat para sahabat berat, saat itu Muhajirin dan Anshor berat berangkat, yang kedua Rasul maunya ke wilayah Tabuk, Tabuk itu sampai diujung pantai wilayah Romawi, kenapa? karena saat itu pasukan Romawi sudah sampai keujung laut yang mendekati ke Jaziratul Arab sudah mau menuju Madinah maka Rasul ingin menahan pasukan Romawi itu jangan sampai masuk ke wilayah Jaziratul Arab dan menguasai sampai menembus Madinah, maka di tahan disana sebelum sampai.

Maka Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam perjalanannya sangat jauh, kalau Badr kan Cuma jaraknya antara Makkah dan Madinah hanya 300 Km, ini perjalanan di dalam satu riwayat hampir 20 hari menuju Tabuk.

Para Sahabatku yang dimuliakan Allah,
Maka itu di sebut Juyusyul ‘Usrah ( yaitu pasukan yang berangkat dengan kesulitan)

Berat karena apa ? cuaca sedang sangat panas, hingga berkata kaum Munafikin kepada Ubay bin Salul, ia berkata :
“Jangan keluar disaat terik begini”
karena di saat itu juga lagi musim panennya kurma (kurma panennya disaat musim panas) jadi kurma lagi panen, kasarnya begini :
“pertanian kalian ini harus di panen, waktunya panen, mau berangkat perang di tinggal, busuk nanti panennya, saat waktunya panen panas terik pula berangkat ketempat jauh lagi di Tabuk”

Maka saat itu Allah subhanahu wata’ala menjawab Ubay bin Salul :

وَقَالُوا لَا تَنْفِرُوا فِي الْحَرِّ قُلْ نَارُ جَهَنَّمَ أَشَدُّ حَرًّا لَوْ كَانُوا يَفْقَهُونَ، فَلْيَضْحَكُوا قَلِيلًا وَلْيَبْكُوا كَثِيرًا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Allah subhanahu wata’ala berfirman :
“mereka diantaranya berkata, jangan keluar disaat waktu yang panas untuk ikut bersama Rasul, katakan Neraka itu lebih panas dari pada panas yang mereka lihat, api Neraka Jahanam jauh lebih panas, mereka hanya bisa tertawa sebentar menikmatinya, menikmati panen berapa minggu, lalu mereka nanti waktunya wafat terus menangis dengan tangisan yang kekal, mereka menangis abadi dalam tangisannya” (QS Attaubah 81-82)

Para Sahabatku yang dimuliakan Allah,
Maka kaum munafikin sudah tidak didengar oleh muslimin, lalu Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam memanggil Sayyidina Zeid bin Kheis Ra, Sayyidina Zeid bin Qeis Ra (dari kaum Anshor)
“wahai Zeid bin Qeis, bukankah engkau ini punya teman dan keluarga dengan Bani Jalad (musuh yang paling jahat di wilayah Tabuk yang bersatu dengan Romawi, yang menolong Romawi untuk masuk, pasukan yang buas dan bengis membunuh) lalu kau punya hubungan keluarga dengan mereka” kata Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam,
maka berkata Zeid bin Qeis Ra
“wahai Rasulullah, coba jangan aku yang berangkat kesana karna aku ini terkenal wanita – wanita disana itu cantik – cantik, karena mereka banyak menikah dengan wanita romawi, aku ini lemah dengan wanita kalau melihat wanita cantik takut tergoda, makanya jangan aku ya Rasulullah yang berangkat”

Turun Ayat, dimasa itu orang kalau menolak Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam turun ayat, Rasul tidak memerintah dengan tegas, tapi Allah yang memerintahkan tegas :
“mereka ada yang berkata izinkankan aku jangan jatuhkan aku dalam fitnah, sungguh sebab mereka ingin menghindari fitnah mereka jatuh dalam fitnah Neraka Jahanam” kata Allah subhanahu wata’ala,

Maka para mufatshir menjelaskan makna ayat ini adalah :
keberangkatan diapun seandainya terjebak fitnah kaum wanita, tapi karena di perintah oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam jauh lebih baik dari pada dia menolak perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, karena menolak perintah Rasul, Neraka Jahanam urusannya, kalau sudah perintah langsung, bertemu dengan Rasul “berangkat kamu sana” menolak maka tentunya itu sudah kekufuran, demikian jumhur seluruh Mazhab.
Maka akhirnya Ibn deis Ra berangkat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan dia selamat dari fitnah bahkan tidak bertemu dengan Bani Ashor, tidak ketemupun, sambungan ceritanya kita lanjutkan.

Diriwayatkan di dalam Sirah ibn Hisyam ketika Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam akan berangkat maka Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan Sayyidina Ali bin Abi Thalib Kw untuk menjadi wakil Beliau di Madinah, untuk menjaga Istri istri beliau, keluarga kerabat dan putri beliau yaitu istri Sayyidina Ali, Sayyida Fathimah Azzahra Ra, maka ia di olok olok oleh kaum munafik, mereka berkata “Rasul tidak memakai engkau wahai Ali, Rasul tahu kau ini tidak ada apa – apanya, kau itu tidak dipakai lagi untuk perang sudah cukup”

Maka murka Sayyidina Ali bin Abi Thalib Kw seraya mengambil pedang dan menghadap Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam, seraya berkata “ya Rasulullah, aku berangkat” Rasul berkata :
“Wahai Ali, kau ini ku titipkan istri dan putriku apakah kau tidak senang kau ini berada didalam kedudukan Nabi Harun di sebelah Nabi Musa, Nabi Musa kan temannya Nabi Harun, Nabi Harun adalah kira – kira adik seperguruannya Nabi Musa derajatnya di bawah Nabi Musa tapi sama – sama Rasul, maukah kau posisimu seperti itu, Cuma tidak ada Nabi setelahku, kalau ada Nabi sesudah aku kau sudah seperti posisi Nabi Harun yang selalu bersama Nabi Musa, tidakah kau rido?” (Shahih Bukhari) Maka Sayyidina Ali pun tenang, ia pun menaruh pedangnya kembali, ia menjaga Madinatul Munawarah.

lalu Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam mengajak mereka untuk bershadaqah, untuk membagi harta bagi – bagi yang mampu untuk keberangkatan dalam perang Tabuk,
Hadits yang saya sebutkan tentang Sayyidina Ali teriwayatkan di dalam Shahih Bukhari, bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam mensejajarkan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam dengan Sayyidina Ali sebagaimana Nabi Musa dengan Nabi Harun, namun tidak ada Nabi setelah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, jadi sangat di cintai oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam demikian Riwayat Shahih Bukhari,

Dan di saat Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam berdo’a sekaligus mengajak para Muhajirin dan Anshor untuk berinfak membantu untuk dana dakwah beliau menuju Tabuk disaat itu berdiri sayyidina Utsman bin Affan ra,
Rasulullah berdiri “siapa yang mau berinfak?”
sayyidina Utsman berdiri
“aku ya Rasulullah 100 ekor onta” (1 ekor onta itu harganya 40 ekor kambing) 100 ekor onta sudah dengan pelananya “Siap”, sayyidina Utsman bin Affan ra,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata
“jazakallah khair ya Utsman” duduk Sayyidina Utsman,
Rasul berdiri lagi,
“ada lagi yang mau berinfak?”
Sayyidina Utsman berdiri lagi
“ya Rasulullah, aku 200 ekor onta tambah yang tadi 100 jadi 300”
Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam berkata
“cukup Utsman duduk, yang lain ada yang bantu?”
diri lagi Sayyidina Utsman
“ya Rasulullah 300 ekor onta tambah 300 yang tadi 200 pertama 100, 200, 300 jadi jumlahnya 600 ekor onta dengan pelananya dengan perlengkapannya fisabilillah”
Maka berkatalah Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam
“tidak ada lagi yang akan musibah menimpa Utsman bin Affan setelah ini”
seluruh biaya menuju perang Tabuk ditanggung Utsman bin Affan Ra.

Demikian para sahabatku yang dimuliakan Allah,
Maka berangkatlah meraka menuju Tabuk dan ketika itu Sayyidina Abu Khaitsamah Ra ia datang ke Madinah, Rasul sudah berangkat. “Mana Madinah sepi?”
“ Rasulullah sudah berangkat semua”
“ kemana?”
“ Menuju Tabuk”
“ oh ya sudah aku tidak ikut sudah terlambat”
Maka diapun masuk kerumahnya, rumah di zaman dulu kan tidak ada lantai ubin, tanah saja, dia mempunyai 2 istri, dua – duanya sedang di ruang tamu membasahi tanah itu menjadi dingin, minuman, makanan di siapkan, air yang dingin dari Girba (kqntung ait dari kulit kambing yang di gosok sampai bersih dijadikan tempat isi air di gantung supaya tertiup angin jadi air dingin), air dingin dengan buah – buahan di siapkan,
kata Abu Khaitsamah Ra “aku masuk ke tempat sejuk dan dingin, Rasulullah dalam keadaan panas dan haus, Demi Allah tidak akan ku injakan kakiku kedalam rumah”
ia pun berkata
“siapkan kudaku, aku tidak masuk kerumah aku tidak rela menginjakan kaki di tanah yang sejuk, Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam di luar dalam keadaan panas dan kehausan, aku tidak mau masuk, siapkan pakaian perang, siapkan kuda aku berangkat,”
diapun menyusul, tengah perjalanan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam sedang beristirahat dengan para Sahabat (diriwayatkah Sirah Ibn Hisyam) maka salah seorang yang menjaga berteriak di atas bukit. “Wahai Rasulullah ada orang naik kuda yang datang” Rasulullah tersenyum “ pasti Abu Khaitsamah” , Betul saja Abu Khaitsama yang datang Ra, dan di Tanya oleh Rasul “apa yang membuatmu telat?”.Maka ia berkata “ya Rasulullah aku datang terlambat, aku masuk kerumah lihat rumah sudah sejuk, siap makanan dan minuman, aku lelah habis berburu, tapi ingat engkau kepanasan dan kehausan aku tidak mau menginjak sejuknya tanah, aku terus melangkah pergi dan menyusulmu” Maka Rasul mendo’akannya kebaikan.

Demikian ketika Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam sudah dekat dengan medan Tabuk, semakin dekat dengan wilayah Tabuk terjadi kekeringan Dan para sahabat mengadukan mereka kehabisan air, maka Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam berdo’a tidak lama kemudian datanglah awan gelap dan hujan pun turun dengan derasnya, hujan tidak berhenti sebelum semua tempat air mereka penuh, baru hujan berhenti.

perjalanan di lanjutkan ke Tabuk, saat itu Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam kehilangan ontanya, ontanya di malam hari hilang, ontanya Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam, sahabat di suruh mencari, salah seorang munafik ikut bersama seorang Anshor bernama Ummarah Ra, Ummarah ini membawa si munafik ini dari Madinah ikut ber dua bersamanya di ontanya, munafik ini bicara “katanya Nabi, bawa kabar dari langit, tapi ontanya hilang ia tidak tahu kemana ontanya, masa iya Nabi tidak tau ontanya hilang tidak tau dimana, dia bawa kabar dari langit ontanya hilang dia tidak tahu”

Maka ketika kabar sampai pada Ummarah Ra, Ummarah sedang dihadapan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam, Rasul sedang duduk cerita, Rasul berkata “temanmu lagi berbicara di sana mengatakan aku ini Nabi membawa kabar dari langit tapi tidak tau ontaku ada di mana sebentar lagi kabarnya sampai”, betul saja kabarnya sampai, “ya Rasulullah teman Ummarah ini, yang menumpang di ontanya Ummarah, dia berkata begini……”, Rasul sudah sudah tau sebelum kau beritau, Rasul tau tempatnya di tempat anu, ontanya tercekik, talinya oleh pohon – pohon tidak bisa pulang, Rasul tau tempatnya dimana, maka Ummarah ini marah melihat temannya “kamu tidak boleh lagi naik ontaku lagi, turun dari ontaku, jalan kaki kamu kurang ajar pd Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sudah di bawa dari Madinah sampai Tabuk bicara seperti itu lagi menghina Rasul”
Disaat itu orang munafik itu terpaksa tidak ikut karena tidak ada yg mau membawanya, karena dia tidak beradab kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagian sahabat tertinggal, banyak yang tertinggal, Rasul berkata biarkan jika Allah kehendaki, Allah menyusulkan mereka untuk kita, saat kita Istirahat Allah yang permudah jalan mereka sampai.

Di antara mereka Abu dzarr Al Ghiffarri Ra di riwayatkah di dalam Sirah Ibn Hisam, keledainya sudah tua dan lemah, akhirnya lambat, akhirnya dia turun membawa barangnya dia panggul, dia jalan kaki sendiri menelusuri jalan untuk mengikuti pasukannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam saat Rasul Istirahat. “ya Rasulullah ada orang berjalan kaki bawa barang – barangnya”, Rasul berkata “Pasti Abu dzarr..!, betul saja, Rasul bersabda : “kemuliaan dan kasih sayang Allah dan Rahmatnya semoga untuk Abu dzarr, Dia jalan datang sendirian menyusul kita, nanti wafatnya sendiri dan nanti akan di bangkitkan di hari kiamatpun sendiri, oleh Allah di muliakan.

Maka periwayat Hadits ini, yaitu Sayyidina Abdullah bin Mas’ud Ra, jauh setelah wafatnya Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam ia melihat Abu dzarr ra, saat berjalan menuju Madinah menuju Iraq, maka ia melihat di satu tempat terbujur jenazah, terus ada seorang anak kecil berdiri di tengah jalan bersama wanita, di pinggir jalan
“ini jenazah siapa menghalangi jalan, hampir saja terinjak oleh kudaku” kata Abdullah bin Mas’ud ra “aku mau buru – buru ke Madinah” Lalu anak itu berkata “ini ayahku Abu dzarr ia wasiat katanya kalau ia wafat , tolong di tutup tubuhnya lalu palangkan di jalan, nanti ada orang dari sahabatku yang akan menemuiku, orang pertama yang menemui jenazahku, kasih tahu aku adalah Abu dzarr minta di makamkan dengan pemakaman yang layak “
Maka menangis Abdullah bin Mashud Ra
Ia berkata “ini ucapan Rasulullah di perang Tabuk, ia datang sendiri, wafat sendiri dan di bangkitkan kelak sendiri dengan Allah subhanahu wata’ala”

Para Sahabatku , demikian Abu dzarr al ghiffari Ra

Di dalam kejadian di perang Tabuk pula Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam menundukan beberapa Raja – Raja yang menentang muslimin di wilayah Tabuk diantaranya Raja Yohana (kalau kita kenal mungkin bahasa latinnya Raja Yohanes) di tundukan oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam, hingga akhirnya dia berhenti dari memerangi Islam, memerangi Rasul, menyerah maka dia pun membayar jizyah (pajak yang di kenakan bagi orang – orang yang Non Muslin, kalau dia berada di Khilafah Islamiyah) koq non muslim di suruh bayar pajak? jusru mulimin lebih banyak kewajibannya kalau non muslim hanya bayar jizyah, tapi muslim ada zakat Fitrah, ada Zakat tijarah, ada zakat Mal, ada zakat thimar, ada zakat lain banyak ada 7 macam zakat, kalau non muslim hanya 1 jizyah saja, untuk apa ? untuk menjaganya, uang yang ia bayar jizyah itu untuk menjaganya, dia di jaga oleh pasukan muslimin, maka Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam menulis surat :
“Bismillahirrahmanirrahim”
“Dengan Nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, dari Muhammad Nabi Rasul Utusan Allah subhanahu wata’ala kepada Raja Yohana, perjanjian dia telah membayar jizyah maka dia berada di dalam jaminan keselamatan Allah, dan jaminan keselamatan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, ia aman semua kapal kapalnya, semua kendaraannya, dan dia aman di daratan dan di lautan”
demikian jaminan dari Sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam untuk Raja Yohana yang Non muslim, namun ia mengadakan perjanjian baik dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu beberapa kekuasaan lainya pun di tundukkan dan setelah itu Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam menanti tinggal 1 namanya Raja Ukaidar, Raja Ukaidar ini masih belum mau tunduk, maka Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam berkata pada Sayyidina Khalid bin Walid, Khalid bin Walid cerita “ya Rasulullah, pasukan kelelahan, ini perjalanan jauh, panas lelah, mereka juga kalau di suruh tempur, kalau bukan perang dari bantuan Allah dan Rasul tidak akan mampu menghadapi pasukan Romawi yang akan tiba di tempat ini”

Pasukan Romawi akan menyeberang dari lautan, dan akan datang
Maka Rasul bersabda : “ya sudah selesai semua tinggal satu ini Kekuasaan Raja Ukhaidar, Khalid bin Walid sekarang Kau pergi kesana, kau akan temui dia keluar tengah malam, dia akan perangi kita dan kita akan mengalahkannya dengan cara yang mudah, mudah saja”
maka Khalid bin walid Ra berkata kepada Rasul saw “bagaimana caranya wahai Rasul?, Rasul saw bersabda : kau datangi saja istananya, nanti dia akan keluar karena mengikuti kerbaunya, kerbaunya akan lari keluar istana”
Khalid bin Walid pun terdiam…, “ kerbau..?, kerbaunya keluar di tengah malam kabur, apa iya?”, maka ia, ia ikut saja Rasulullah bilang begitu dia naik ke atas tempat yang tinggi dia lihat, kerbaunya betul2 keluar dari kandang nya mendobrak pintu gerbang istananya dari dalam, keluar dari kandangnya lari keluar, istrinya berkata ini tidak pernah terjadi selama lamanya sampai kerbau ini menghancurkan pintu gerbang kita tengah malam lagi…, Kejar..!, Raja Ukaidar mengejarnya maka dia menemui kudanya Rasul dan membunuh kudanya Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam. maka punya alasan Khalid bin walid untuk menyerangnya maka ia pun di kalahkan dan iapun mengakhirinya dg mengalah.

Rasul menanti selama 10 hari, tidak ada kecuali Allah mendatangkan angin yang demikian dahsyatnya meniup kearah laut hingga pasukan Romawi itu tidak kunjung datang sampai di atas 10 hari, Lebih dari 10 hari belasan hari, kurang dari 15 hari Rasul menanti tidak ada, pulang, Kata Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam kita kembali ke madinatul Munawarah
Maka mereka pun pulang dari Perang Tabuk dan tidak lagi terjadi pertempuran tapi banyak terjadi kejadian – kejadian yang luhur di dalam perjalanan pulang Rasul membangun 17 mesjid yang dibangun oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam dalam perjalanan itu, dan sampai di madinah Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam melihat gunung uhud dan berkata (sebagaiman di riwayatkan di dalam Shahih Bukhari)
“ini adalah gunung Uhud mencintai kita, dan kita mencintai gunung Uhud”
masya Allah.. ,
cintanya gunung uhud berpijar terlihat oleh sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam cintanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Rasul pun menjawab cintanya bongkahan batu itu.

bongkahan batu itu ternyata bukan benda mati yang seperti kita ketahui, tapi Allah sudah berfirman bahwa semua benda itu mempunyai perasaan bahkan gunung itu mempunyai kekhusukan bukankah Allah telah berfirman
“kalau seandainya kami turunkan Al Qur’an di atas puncak sebuah gunung niscaya akan tuntut hancur berantakan karena takutnya kepada Allah”
Berarti punya perasaan takut, berarti itu bukan benda mati dan ternyata memiliki cinta kepada sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
kalau gunung cinta bagaimana dengan umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, bukankah bongkahan batu itu hanyalah gunung – gunung itu hanya bongkahan batu, hanyalah batu – batu kerikil dan cadas ternyata ia mencintai Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, bagaimana perasaanku dan kalian ? bagaimana aku dan kalian yang di janjikan syafa’at di yaumil qiyamah
“aku menanti kalian di telaga haud, aku menanti kalian di shirath, aku menanti kalian di mizan”
demikian Nabiku dan Nabi kalian. dan jika kita bertanya apakah cinta kita di jawab oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam, aku nih banyak dosa jangan putus asa. gunung saja cinta pd Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam, di cintai pula oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam, lebih – lebih lagi umat beliau shallallahu ‘alaihi wasallam wabarik alaihi wa’ala alihi.

Para Sahabatku yang di muliakan Allah,
di riwayatkan didalam Sirah Ibn Hisyam ketika sayyidina Ka’ab bin Malik Ra, salah seorang yang tidak ikut di dalam perang Tabuk, ia mampu, pecinta Rasul, dan mampu berangkat tapi ia malas berangkat, tidak ada udzurnya. Cuma ia orang yang sangat cinta kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam selalu ikut kemana Rasul pergi. tapi pas perang dia merasa malas berangkat tidak ikut dengan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam.

Maka saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang dia menyesal, ia langsung mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersama 80 orang lainnya yang sama – sama memohon pengampunan kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam karna tidak ikut perang Tabuk,
di maafkan di maafkan, Rasul pun mengistigfari mereka semua pas Ka’ab bin Malik datang Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam buang muka, dia berkata
“ya Rasulullah apakah tadi kau telah mengistigfari kami?”
Rasul berkata “apa yang membuatmu tidak ikut?”, “ya Rasulullah seandainya kau ini bukan Nabi aku ini sangat mencintaimu ya Rasul, seandainya kau bukan Nabi aku akan berdusta demi cintaku terjaga supaya kau tidak benci padaku, tapi ku tahu kau ini Nabi tidak bisa di dustai tidak bisa di bohongi, Allah yang akan menjawabnya maka aku dari takut nya kau benci pada ku aku akan dusta padamu supaya kau tidak benci padaku karena kau Nabi jadi kau tidak bisa di dustai, aku jujur aku tidak punya udzur Cuma malas saja ya Rasulullah aku salah”
demikian beraninya dia, dan bersungguh – sungguhnya dia dan kuatnya cintanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, hingga ia berani mengucapkan dengan jujur di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Rasulullah saw diam, tunggu keputusan Allah “tidak satu pun diantara penduduk Madinah dari kaum muslimin yang boleh berbicara denganmu” perintah Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam. memberikan teguran kepada Ka’ab bin malik Ra. Orang yang sangat Mencintai Rasul tapi kok tidak mau ikut dengan Rasul., Ka’ab bin Malik menangis, dia berkata “yang membuat ku menangis bukan perintah itu, seandainya ku di penggal aku Ridho, tapi masalahnya Rasul sudah memohonkan pengampunan bagiku dan bagi semua yang tidak ikut maka perintah ini datang untuk ku tidak boleh di ajak ngobrol 3 orang yang kena, Allah berfirman tiga orang yang tidak ikut didalam perang Tabuk terkena teguran oleh Allah subhanahu wata’ala, tidak boleh di ajak bicara tidak boleh siapapun,
Ka’ab bin Malik berkata ini bukan karena dosaku tapi karena cintanya Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam yang tersinggung aku tidak ikut dengannya beliau tidak ingin orang yang mencintai beliau tidak ikut bersama beliau diperang Tabuk maka Rasul bertanya pada saat di Tabuk
“ayna Ka’ab bin malik?” “Ka’ab bin malik kemana? biasanya dia suka ikut bersama ku”
maka salah seorang berkata “munafik ya Rasulullah” maka berkata Abdullah bin Mas’ud ra “seburuk buruk ucapan adalah ucapanmu dia itu orang yang cinta kepada Allah dan Rasulnya”
Rasul terdiam, maka ketersinggungan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam itu membuat turunnya ayat agar Allah memberikan agar orang yang mendapat teguran tidak diajak bicara, Ka’ab bin Malik menangis.., “aku tidak sangka cintanya Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam sedemikian besarnya padaku sampai beliau demikian tersinggung sampai Allah pun tersinggung aku tidak boleh di ajak bicara semua teman teman, semua orang ku ajak bicara ku ucapkan salam tidak satu pun menjawab”
aku datang kepada Rasul ikut shalat menjadi makmum selepas shalat aku bersalam Rasul terdiam saja kuperhatikan bibirnya bergerak tidak menjawab salamku beliau membuang muka untuk tidak menunjukan bibirnya bergerak menjawab salam atau tidak.
maka Ka’ab bin Malik mundur, sehari dua hari, akhirnya datang utusan ke hari 40, dia sudah tidak keluar rumah, hanya di rumah saja, karena ketika ia keluar kepada saudara sepupunya : “Assalamu’alaikum, aku adalah orang yang mencintaimu bukankah aku mencintaimu dan aku di cinta Allah dan Rasul….??“ Tidak di jawab oleh saudaranya, “kau bersaksi kalau aku ini mencintai Allah dan Rasul atau tidak?”. Tidak di jawab, Rasul sudah perintah tidak boleh bicara, maka ia pun pulang menangis, dia kumpul dengan 3 orang itu saja, hari ke 40 datang utusan, berkata Ka’ab bin Malik “ada ada apa ini?”, Aku utusan dari Rasul.., “apa yang di katakana Rasul?”, Kata Rasul saw “pulangkan Istrimu dari rumahmu, kau tidak boleh juga berbicara dengan Istrimu” (Laillahaillah) Berkata Kaab bin Malik, makin berat ujian aku, istrinya dipulangkan pada Ayahnya, Maka Kaab bin Malik menangis, datang para sahabat pada Rasul : “ya Rasulullah Kaab bin Malik terus menangis, tidak berhenti dari hari pertama sampai hari ini, bolehkah aku khidmah padanya karena dia tidak keluar rumah, tidak makan, tidak minum, ku bawakan minuman, makanan”
Rasul berkata “boleh tapi jangan di ajak bicara, karena Allah melarangnya”, Maka dia pun berbuat demikian.
hari ke 50 Kaab bin Malik Shalat subuh jauh dari Shaf nya Rasulullah, Rasulullah selesai shalat di sana, dia shalat jauh dari tempat terkucil lalu datanglah utusan menjerit “dimana Kaab bin Malik? Sudah turun ayat Allah telah mengampuninya”, Kaab bin Malik berdiri dan bersujud kepada Allah subhanahu wata’ala, “aku tau pasti ini hari yang ke 50 datangnya perintah dari Allah untuk memafkanku bisa kembali lagi berhubungan dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan akrab”, Dia datang maka para sahabatpun memeluknya, sahabat juga rindu padanya, Cuma karena Allah melarang ya sudah mundur semuanya, mereka memeluk Kaab bin Malik, berkata “Barakallahufik, selamat selamat sekarang kau sudah di maafkan Allah, turun ayat untukmu, Allah berkata mereka dari kaum Muhajirin dan Anshor dan 3 orang yang telah menentang untuk tidak berangkat ke Tabuk di Maafkan oleh Allah subhanahu wata’ala, Allah menerima Taubat kalian, ayat turun untuk menerima taubat kalian”
Maka ia sampai kehadapan Rasul saw yang sedang duduk dan mencium kaki Rasul saw dan menangis di pahanya Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam karena gembira.

Para Sahabatku  yang di muliakan Allah,
Demikian kejadian Tabuk, perang Tabuk pada tahun 9 Hijriyah di bulan Sya’ban,

Diriwayatkan di dalam shahih ibn hibban bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda “dimalam Nisfu Sya’ban Allah memandang penduduk Bumi dan mengampuni semua dosa keturunan Adam kecuali orang yang tidak menyembah Allah dan orang yang suka bermusuhan (orang yang suka memutus talisilahturahmi) selai dari mereka di hapus dosanya oleh Allah di malam Nisfu Sya’ban”
Di riwayat lain di dalam Musnad Imam Ahmad bin Hambal di riwayatkan bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam keluar ke pekuburan Baghi di malam hari di ikuti Sayyidatuna Aisyah Ra “mau kemana Rasulullah ini malam – malam keluar”Di lihat beliau di pekuburan Baqi’ malam – malam, ini dalil juga hadits tentang sunahnya ziarah malam boleh, Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam ke Baqi berdo’a lalu kembali “wahai Rasul apa yang terjadi?”
Rasul bersabda : “wahai Aisyah kau tidak taukah ini malam nisfu sya’ban, malam ini Allah mengampuni dosa hamba – hamba Nya lebih banyak dari pada jumlah bulu domba di muka bumi, pengampunan Allah turun di malam Nisfu Sya’ban itu”

5 malam mustajab demikian di riwayatkan di dalam Syi’bul iman lil baihaqy, 5 Malam yang Istajab do’a : Malam Jum’at, datang suatu waktu dimalam jum’at do’a mustajab disetiap malam jum’at dan di malam 1 Rajab dimalam Nisfu Syaban dan di malam Idul Adha, dan di malam Lailatul Qadr, 5 Malam ini Mustajab do’a, kita kumpul di mala Nisfu Sya’ban membaca Yasin, kenapa membaca Yasin?
Saya baru berhasil mengumpulkan 70 Riwayat, belum lagi lebih karna waktu sempit, lebih dari 70 Riwayat yang menjelaskan : “barang siapa yang membaca Yasin di qabulkan hajatnya”, Orang yang mempunya hajat membaca yasin 1 kali Allah kabulkan hajatnya, Di riwayatkan oleh para Muhadits, mereka merangkum kemuliaan – kemuliaan Surat Yasin, dari hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam diantaranya adalah : Yang pertama adalah “barang siapa yang mempunya hajad membaca Surat Yasin di qabul hajatnya, lalu jika orang sulit melahirkan, di bacakan surat Yasin dimudahkan pula melahirkan, orang yang tersiksa di Sakaratul maut tidak bisa wafat maka di bacakan surat Yasin Maka segera wafat dalam Khusnul Khatimah, dan mereka yang sudah wafat di bacakan surat yasin Allah mengampuni Jenazahnya, demikian diantara faidah kemuliaannya Yasin, kita baca Yasin 3 X, satu untuk panjang umur, satu untuk ditambah rizqi kita, satu untuk di wafatkan di dalam khusnul Khatimah.

misalnya 1 Juta muslimin muslimat baca Yasin berarti kan seorang kebagian pahala 3 Juta membaca Surat Yasin, hadirin hadirat kapan kita bisa mendapat pahala 3 Juta surat Yasin kita baca, di tambah lagi Dzikir Jalallah 1000 lagi, kalau 1 juta, jadi 1 Miliar kita membaca “ya Allah ya Allah”
Para sahabatku,di malam yang mustajab, kalau malam lailatul Qadar kan malam yang sudah jelas, kita malam Nisfu Sya’abn juga kan jelas sebagian pendapat mengatakan malam turunnya Al Qur’an malam nisfu Sya’ban tapi pendapat yang lebih kuat bahwa malam turunnya Al qur’an itu di Bulan Ramadhan

  Siapapun yang hidup didunia ini, jika “MALAS” dipastikan tidak akan mengalami “KESUKSESAN”.Orang bodoh boleh belajar menjadi pintar, orang miskin boleh bekerja keras, tapi orang malas tidak ada obatnya, pasti pada akhirnya akan segera hidup berat dan bercacat.  Hanya pekerja keraslah akan memenangkan pergumulan itu.Oleh karena itu ingatlah !  Jangan “KIKIR” menggunakan daya dan upaya !!! 

Kerahkan segala kemampuan dan ketabahan Anda;Karena  begitu tiba-tiba Anda  mudah untuk menyerah, maka  dipastikan akan begitu sulit untuk mempertahankan kegigihan Anda.Anda akan segera terseret Arus Kemalasan,Dan pada akhirnya akan jatuh kedalam Jurang yang  mengerikan.  Oleh karena itu camkanlah !!!Lihatlah ke mana Anda akan melompat dan perhatikanlah kemana Anda akan menuju.   

Malas semasa muda, akan sengsara dihari tua !!!   Kerja Keras, Gigih, Teguh, Ulet, tabah dan disiplin adalah salah satu kunci Utama menuju kesuksesan.  Siapa Malas dia akan mengalami kehancuran,Siapa Rajin dia akan mengalami KesuksesanKesuksesan adalah Sumber dari segala Sumber Kebahagiaan !!! Tanamkanlah Selalu Kata-Kata Bijak Ini Dalam Hati dan Pikiran Anda 

Oleh : KH Abdullah Gymnastiar

Allah SWT menciptakan semua makhluk telah sempurna dengan pembagian rezekinya.Tidak ada satu pun yang akan ditelantarkan-Nya, termasuk kita. Karena itu, rezeki kita yang sudah,Allah SWT jamin pemenuhannya. Yang dibutuhkan adalah mau atau tidak kita mencarinya.
Yang lebih tinggi lagi benar atau tidak cara mendapatkannya.
Rezeki di sini tentu bukan sekadar uang. Ilmu, kesehatan, ketenteraman jiwa, pasangan hidup, keturunan, nama baik, persaudaraan, ketaatan termasuk pula rezeki, bahkan lebih tinggi nilainya dibanding uang. Walau demikian, ada banyak orang yang dipusingkan dengan masalah pembagian rezeki ini. “Kok rezeki saya seret banget, padahal sudah mati-matian mencarinya?”
“Mengapa ya saya gagal terus dalam bisnis?”
“Mengapa hati saya tidak pernah tenang?”
Ada banyak penyebab, mungkin cara mencarinya yang kurang profesional, kurang serius mengusahakannya, atau ada kondisi yang menyebabkan Allah Azza wa Jalla “menahan” rezeki yang bersangkutan. Poin terakhir inilah yang akan kita bahas. Mengapa aliran rezeki kita tersumbat? Apa saja penyebabnya?

Saudaraku, Allah SWT adalah Dzat Pembagi Rezeki. Tidak ada setetes pun air yang masuk ke mulut kita kecuali atas izin-Nya. Karena itu, jika Allah SWT sampai menahan rezeki kita, pasti ada prosedur yang salah yang kita lakukan.
Setidaknya ada lima hal yang menghalangi aliran rezeki.

Pertama, lepasnya ketawakalan dari hati. Dengan kata lain, kita berharap dan menggantungkan diri kepada selain Allah SWT . Kita berusaha, namun usaha yang kita lakukan tidak dikaitkan dengan-Nya. Padahal Allah SWT itu sesuai prasangka hamba-Nya. Ketika seorang hamba berprasangka buruk kepada Allah SWT , maka keburukan-lah yang akan ia terima.Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah SWT niscaya Allah SWT akan mencukupkan (keperluan) nya.
Demikian janji Allah SWT dalam QS Ath Thalaaq [63] ayat 3.

Kedua, dosa dan maksiat yang kita lakukan. Dosa adalah penghalang datangnya rezeki. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya seseorang terjauh dari rezeki disebabkan oleh perbuatan dosanya.” (HR Ahmad).
Saudaraku, bila dosa menyumbat aliran rezeki, maka tobat akan membukanya. Andai kita simak, doa minta hujan isinya adalah permintaan tobat, doa Nabi Yunus saat berada dalam perut ikan adalah permintaan tobat, demikian pula doa memohon anak dan Lailatul Qadar adalah tobat. Karena itu, bila rezeki terasa seret, perbanyaklah tobat, dengan hati, ucapan dan perbuatan kita.

Ketiga, maksiat saat mencari nafkah. Apakah pekerjaan kita dihalalkan agama? Jika memang halal, apakah benar dalam mencari dan menjalaninya? Tanyakan selalu hal ini. Kecurangan dalam mencari nafkah, entah itu korupsi (waktu, uang), memanipulasi timbangan, praktik mark up, dsb akan membaut rezeki kita tidak berkah. Mungkin uang kita dapat, namun berkah dari uang tersebut telah hilang. Apa ciri rezeki yang tidak berkah? Mudah menguap untuk hal sia-sia, tidak membawa ketenangan, sulit dipakai untuk taat kepada Allah SWT serta membawa penyakit. Bila kita terlanjur melakukannya, segera bertobat dan kembalikan harta tersebut kepada yang berhak menerimanya.

Keempat, pekerjaan yang melalaikan kita dari mengingat Allah SWT . Bertanyalah, apakah aktivitas kita selama ini membuat hubungan kita dengan Allah SWT makin menjauh? Terlalu sibuk bekerja sehingga lupa shalat (atau minimal jadi telat), lupa membaca Alquran, lupa mendidik keluarga, adalah sinyal-sinyal pekerjaan kita tidak berkah. Jika sudah demikian, jangan heran bila rezeki kita akan tersumbat. Idealnya, semua pekerjaan harus membuat kita semakin dekat dengan Allah SWT . sibuk boleh, namun jangan sampai hak-hak Allah SWT kita abaikan. Saudaraku, bencana sesungguhnya bukanlah bencana alam yang menimpa orang lain. Bencana sesungguhnya adalah saat kita semakin jauh dari Allah SWT .

Kelima, enggan bersedekah. Siapapun yang pelit, niscaya hidupnya akan sempit, rezekinya mampet. Sebaliknya, sedekah adalah penolak bala, penyubur kebaikan serta pelipat ganda rezeki. Sedekah bagaikan sebutir benih menumbuhkan tujuh bulir, yang pada tiap-tiap bulir itu terjurai seratus biji. Artinya, Allah SWT yang Maha kaya akan membalasnya hingga tujuh ratus kali lipat (QS Al Baqarah [2]: 261). Tidakkah kita tertarik dengan janji Allah SWT ini? Maka pastikan, tiada hari tanpa sedekah, tiada hari tanpa kebaikan. Insya Allah SWT , Allah SWT akan membukakan pintu-pintu rezeki-Nya untuk kita. Amin.

Akal adalah salah satu potensi manusia yang perlu kita syukuri. Salah satu cara bersyukur ialah mempergunakan akal kita sesuai dengan keinginan yang membuatnya, yaitu Allah SWT. Dengan akal, manusia memiliki kemampuan untuk memperoleh ilmu dan pengetahuan. Suatu kemampuan yang tidak dimiliki oleh makhluk lain.

Salah satu perintah Allah SWT kepada manusia ialah agar setiap tindakan dan tingkah lakunya berdasarkan ilmu.

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS.17:36)

Setiap tindakan atau perbuatan yang tidak berdasarkan ilmu akan membuat kita menjadi orang yang merugi di sisi Allah. Di akhirat kita akan masuk neraka.

“Dan mereka berkata: “Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala” . (QS.67:10)

Begitu juga di dunia, selain kita tersesat, hidup tanpa ilmu bagaikan berjalan di tempat yang sangat gelap, kita tidak tahu apa yang harus dilakukan, atau kalaupun ada hanya mengikuti orang lain saja yang belum tentu benar atau salahnya.

Tidak sedikit manusia yang tidak mau mengoptimalkan akalnya. Contohnya ialah orang-orang yang sudah tidak mau lagi menggunakan akalnya dalam mencari ilmu. Mereka merasa ilmunya sudah cukup untuk hidupnya. Mereka ungkapkan berbagai alasan agar tidak lagi belajar atau menuntut ilmu.

Jangankan untuk membuka buku, sekedar mendengarkan orang lain pun ada saja yang tidak mau. Padahal jika kita rajin mendengarkan orang lain, kita akan mendapatkan ilmu gratis yang tidak perlu susah payah mencarinya.

Marilah kita terus-meneruskan mengoptimalkan potensi akal kita agar tidak rugi baik dunia dan akhirat. Ingatkanlah saudara-saudara kita yang masih belum sadar akan hal ini. Nasib negara Indonesia akan sangat tergantung dari kualitas bangsanya sendiri.

(Ingati bila Sunyi, Rindui bila Jauh, Fahami bila Keliru, Nasehati bila Lalai dan Maafkan bila Terluka. Alangkah Indahnya ukhuwah bila sgalanya karena Allah SWT)

Sebagian kita adalah pemimpin bagi sebagian yang lain.Jika anda punya satu orang anggota saja, maka anda adalah seorang pemimpin.Dalam bukunya yang amat terkenal, Mengembangkan Kepemimpinan Di Dalam Diri Anda, John C. Maxwell berkata, “Mengubah pemimpin berarti mengubah organisasi. Menumbuhkan pemimpin, menumbuhkan organisasi.” Artinya? Perusahaan atau organisasi tidak akan berubah dan tidak akan berjalan ke arah yang dicita-citakan, apabila para pemimpinnya sendiri, di bagian apapun, tidak berubah dan tidak tumbuh. Sebuah organisasi tidak bisa tumbuh di luar sampai para pemimpinnya sendiri tumbuh di dalam.

Jika seluruh unit kepemimpinan berubah secara positif, maka pertumbuhan organisasi atau perusahaan akan terjadi secara otomatis. Pemimpin yang lemah sama dengan organisasi yang lemah. Pemimpin yang kuat sama dengan organisasi yang kuat. Segala-galanya akan naik atau turun, sesuai dengan kekuatan kepemimpinan.

Kita mungkin juga bisa sepakat bahwa perbedaan antara perusahaan yang baik dengan perusahaan yang hebat juga adalah kepemimpinan. Apakah Anda bersedia jadi pemimpin yang hebat?

Syaratnya, mau berubah ! Apa ada pemimpin yang menolak perubahan? Banyak…! Perlawanan terhadap perubahan adalah sesuatu yang universal sifatnya, menyerang semua kelas dan budaya. Sekalipun sudah ditunjukkan berbagai fakta kebenaran dan bukti nyata, tetap saja banyak pemimpin yang tidak mau mengubah sikap dan pikirannya.

Maxwell mengambil sebuah kisah yang amat menarik tentang Henry Ford yang gagal memimpin dunia otomotif lantaran ia tidak mau berubah, seperti yang dilukiskan dalam biografi Robert Lacy yang laris,

Ford: The Man and the Machine. Lacy mengatakan Ford adalah orang yang begitu mencintai mobil model T yang diciptakannya sehingga ia tidak mau mengubah satu baut pun pada mobil itu. Dia bahkan mendepak William Knudsen, karena Knudsen berpikir dia melihat kemerosotan Model T.

Itu terjadi tahun 1912, ketika Model T baru berumur empat tahun dan sedang berada di puncak popularitasnya. Saat itu Ford baru saja kembali dari perjalanan pesiar di Eropa, dan dia pergi ke garasi Highland Park, Michigan, dan melihat rancangan baru yang diciptakan Knudsen.

Para montir yang ada disana mencatat bagaimana Ford sesaat menjadi mata gelap. Dia memandangi kilatan cat merah pada versi Model T yang rendah yang dianggapnya sebagai versi yang buruk dari rancangan Model T yang disayanginya. “Ford memasukkan tangan ke dalam sakunya, dan dia berjalan mengelilingi mobil tiga atau empat kali,” kata para saksi mata menceritakan. “Itu adalah mobil empat pintu, dan atapnya diturunkan.

Akhirnya, dia pergi ke sisi kiri mobil, dan dia mengeluarkan tangannya, memegang pintu, dan gubrak!

Dia merenggutkan pintu sampai copot! … Bagaimana orang itu melakukannya, saya tidak tahu! Dia melompat masuk, dan gubrak! Copot pula pintu lainnya. Hancurlah kaca depan. Dia melompat ke jok belakang dan mulai memukuli atap. Dia merobek atap dengan tumit sepatunya. Dia menghancurkan mobil sebisa-bisanya.”

Knudsen keluar dan pergi ke General Motors. Henry Ford terus memelihara Model T. Tetapi perubahan desain dalam model pesaing membuatnya menjadi lebih kuno daripada yang diakuinya. Kendati General Motor mengancam akan mendahului Ford, sang pencipta tetap menginginkan kehidupan membeku di tempatnya.

Contoh berikut pun cukup menarik. Selama berabad-abad orang percaya bahwa Aristoteles benar, dengan

teorinya: bahwa semakin berat suatu benda, semakin cepat benda itu jatuh ke tanah. Pada waktu itu Aristoteles dipandang sebagai pemikir terbesar sepanjang zaman dan karena itu tentu saja dia tidak mungkin salah. Padahal yang diperlukan hanyalah seorang yang berani untuk mengambil dua buah benda, yang satu berat dan lainnya ringan, lalu menjatuhkannya dari ketinggian yang cukup untuk melihat apakah benda yang berat memang jatuh lebih dahulu atau tidak. Tetapi saat itu tidak ada orang yang tampil ke depan sampai hampir 2000 tahun setelah kematiannya. Pada tahun 1589, Galileo memanggil para professor yang terpelajar ke landasan Menara Miring Pisa. Kemudian dia naik ke puncak dan mendorong jatuh dua buah beban, yang satu seberat sepuluh pon dan yang lainnya satu pon. Hasilnya, keduanya ternyata mendarat pada saat yang sama!

Apa kata para professor? Karena mereka tetap yakin dengan kekuatan kebijaksanaan konvensional yang demikian kokoh bersemayam dalam diri mereka, para professor itu tetap menyangkal apa yang mereka lihat.

Mereka tetap mengatakan bahwa Aristoteles benar, lalu lemparkan Galileo ke penjara dan melewatkan sisa hidupnya dalam tahanan rumah. Pertanyaannya, masih adakah sesuatu yang begitu kuat anda yakini sehingga sekalipun sudah berulang kali diperlihatkan fakta-fakta betapa pentingnya kita segera berubah, tetap saja Anda tidak mau berubah?

Karena itulah, Howard Hendrick, dalam Teaching to Change Lives mengingatkan: Kalau Anda ingin terus memimpin, maka Anda harus berubah. Begitu para pemimpin secara pribadi mau berubah dan mulai melakukannya, maka segala sesuatu yang berada dalam tanggungjawabnya pasti segera berubah. Para pemimpin adalah motor perubahan, dan karena itu ia harus berada di depan untuk menggerakkan perubahan dan mendorong pertumbuhan serta menunjukkan jalan untuk mencapainya.

Tapi terkadang ada pula sebagian pemimpin kita yang mungkin berperilaku seperti Lucy dalam kartun “Peanuts”. Sambil menyandar ke pagar ia berkata pada Charlie Brown, “Saya ingin mengubah dunia.” Charlie bertanya, “Darimana kamu akan memulai?” Lucy menjawab, “Saya akan mulai dengan kamu!”

Para pemimpin yang ada di seluruh bagian perusahaan dimanapun ia berada, harus mampu menjadi motor perubahan. “Mereka harus lebih menjadi termostat daripada termometer,” kata Maxwell, dalam Mengembangkan Kepemimpinan Di Sekeliling Anda. Apa bedanya? Kedua alat ini memang sama-sama bisa mengukur panas, tapi ada bedanya. Termometer bersifat pasif. Ia hanya mencatat suhu lingkungan tetapi tidak bisa melakukan apapun untuk mengubah lingkungan. Termostat adalah alat yang aktif. Alat ini menentukan akan menjadi apa sebuah lingkungan. Termostat mempengaruhi perubahan supaya bisa menciptakan iklim. Pemimpin yang baik, mampu menjadi motor perubahan yang menciptakan iklim yang kondusif bagi pertumbuhan cita-cita perusahaan.

Perubahan Apa?

John C. Maxwell dalam buku “The Winning Attitude”  menggambarkan, “orang berubah ketika mereka cukup sakit sehingga harus berubah; cukup belajar sehingga ingin berubah; cukup menerima sehingga mereka bisa berubah.” Karena itu para pemimpin perlu mengenali siapa-siapa saja orang-orangnya yang berada dalam salah satu dari tiga tahap ini. Sedangkan para pemimpin puncak akan menciptakan suasana yang menyebabkan salah satu dari tiga hal ini terjadi.

Apa yang pertama dan utama sekali perlu diubah oleh para pemimpin, sehingga ia mampu menciptakan suasana yang akan mendorong orang lain ikut berubah?

Maxwell, mengajarkan:

Pertama, pemimpin harus mengembangkan kepercayaan dengan orang lain. Kalau anggota tim percaya kepada pemimpin, itu sudah lumayan hebat. Akan tetapi jauh lebih hebat lagi jika justru pemimpin yang percaya kepada para anggotanya. Bila ini benar-benar terjadi, kepercayaan adalah hasilnya, maka semua pun akan mengikuti. Abraham Lincoln berkata, “Kalau Anda ingin merebut hati seseorang agar mendukung perjuangan anda, mula-mula yakinkan dia bahwa anda sahabatnya yang sejati. Lalu selidikilah apa yang ingin dicapainya.”

Ujian praktis bagi seorang pemimpin adalah pertanyaan, “Bagaimana hubungan Anda dengan para pengikut Anda?” Kalau hubungannya positif, maka pemimpin itu telah siap untuk mengambil langkah-langkah berikutnya.

Kedua, pemimpin harus membuat perubahan pribadi pada dirinya sendiri, sebelum meminta orang lain berubah. Para pemimpin sukses bukan hanya mengatakan apa yang harus dilakukan, mereka memperlihatkannya! Orang meniru apa yang mereka lihat dari sang pemimpin. Apa yang dihargainya akan dihargai pula oleh anak buahnya.

Tujuan pemimpin menjadi tujuan mereka. Lee Iacocca berkata, “Kecepatan bos adalah kecepatan tim.” Kita perlu ingat bahwa kalau orang mengikuti kita, mereka hanya bisa pergi sejauh kita pergi. Kalau pertumbuhan kita berhenti, kemampuan kita untuk memimpin pun akan berhenti. Karena itu mulailah belajar dan tumbuh sejak  hari ini, maka lihatlah mereka yang ada di sekeliling anda, mereka pun ternyata tumbuh dan berubah. Ambil contoh saja, mulailah menghilangkan sikap takut mengatakan hal-hal yang tidak ingin didengar oleh atasan anda.

Sebagai pemimpin anda harus melaporkan dan menyampaikan apa yang perlu anda laporkan, bukan apa yang sebaiknya dilaporkan. Lalu rangsanglah anggota organisasi anda untuk berani pula menyampaikan apa yang perlu anda dengar, bukan apa yang ingin anda dengar.

Ketiga, perlihatkan kepada tim anda bagaimana perubahan itu sebenarnya akan sangat menguntungkan bagi mereka. Sebab perubahan yang sedang kita lakukan saat ini adalah jalan terbaik bagi seluruh pihak,demi masa depan semua orang, bukan bagi anda sebagai pimpinannya. Kepentingan orang banyak itulah yang harus didahulukan.

Keempat, beri mereka andil kepemilikan atas perubahan itu. Kalau orang kurang ikut memiliki suatu gagasan,mereka biasanya menentangnya, bahkan seandainya pun gagasan itu sebetulnya untuk kepentingan mereka yang terbaik! Pemimpin yang bijaksana memungkinkan pengikut bisa memberikan masukan dan menjadi bagian dari proses perubahan. Tanpa rasa memiliki ini, perubahan hanya akan berjangka pendek. Mengubah kebiasaan dan cara berpikir orang banyak seperti menulis perintah di atas salju dalam badai. Setiap duapuluh menit perintah harus ditulis kembali, kecuali kalau kepemilikan diberikan bersama dengan perintah.

Karena itu, kata Trusell dalam Helping Employees Cope with Change: A Manager’s GuideBook, “Tunjukkan kepada orang lain bagaimana perubahan akan menguntungkan mereka. Mintalah mereka untuk berperan serta dalam semua tahap proses perubahan. Bersikaplah lentur, terbuka dan bisa menyesuaikan diri sepanjang proses perubahan. Akuilah kesalahan dan buatlah perubahan kalau sesuai dengan keadaan. Doronglah setiap anggota tim untuk membicarakan perubahan. Mintalah pertanyaan, komentar dan umpan balik mereka. Tunjukkan keyakinan anda atas kemampuan mereka untuk melaksanakan perubahan. Akhirnya jangan lupa berilah selalu antusiasme, bantuan, penghargaan, dan pengakuan kepada mereka yang melaksanakan perubahan.

Ada tujuh karakter penting yang membuat seorang pemimpin dianut oleh karyawan atau bawahannya. Tujuh karakter penting itu saling terkait antara satu dengan yang lain. Sehingga ketujuh karakter ini tidak bisa dipisahkan. Apa saja tujuh hal itu?

Mitra bisnis, dalam business wisdom kesempatan ini saya ingin menelaah tentang kepemimpinan atau leadership. Apa sih yang membuat anak buah, karyawan, atau bawahan itu mau mendengarkan gaya kepemimpinan Anda.

Ada tujuh hal penting yang membuat seseorang itu mau dipimpin atau menurut kepada Anda. Pertama, bila anda sebagai pemimpin memperlakukan mereka dengan rasa hormat. Tidak semua orang memang gila hormat, tetapi siapapun orangnya juga tidak mau untuk dihina. Kalau kita bisa memperlakukan karyawan atau bawahan kita dengan rasa hormat, maka mereka akan menghargai itu.

Kedua, seorang pemimpin harus bisa memberikan inspirasi kepada bawahannya. Pemimpin harus mampu memberikan inspirasi, visi, dan misi ke mana sebenarnya arah perjalanan kita. Kalau mau maju, apa pula yang diinginkan.

Ketiga, karyawan atau bawahan akan menurut bila Anda dapat mengajarkan sesuatu, memberikan sebuah ilmu atau kemampuan. Sehingga semuanya dapat belajar dan tumbuh menjadi karyawan yang lebih baik.

Keempat, pemimpin harus dapat mentoleransi sebuah kesalahan yang tentu saja bukan kesalahan yang sama dan telah dibuat berulang-ulang. Tetapi sebuah kesalahan yang terjadi sekali saja.

Kelima, pemimpin harus mau berkomunikasi dengan jujur dan terbuka. Karena kalau kita tidak mampu mengomunikasikan diri kita dengan bawahan, maka akan terjadi ketidakpastian dan salah paham di antara mereka.

Keenam, anak buah harus percaya terhadap apa yang dijalankan oleh pimpinannya. Kalau anak buah tidak percaya dan merasa bahwa pemimpinnya menipu, mau menangnya sendiri, mau enaknya saja, tetapi tidak mau bekerja dengan benar dan jujur, maka bawahannya tidak akan menurut.

Ketujuh, pimpinan harus mau melakukan apa yang telah diajarkan. Jadi kalau dia bilang harus hidup dengan baik, maka dia harus mempunyai cermin dari hidup yang baik itu. Kalau tidak, mereka akan menganggap Anda hanya berbicara tanpa memberikan contoh yang benar. Pemimpin yang baik harus mempunyai ketujuh karakter tersebut.

Demikian business wisdom hari ini. Semoga bermanfaat bagi kita atau orang-orang di sekitar kita.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.