Islam


Oleh : KH Abdullah Gymnastiar

Allah SWT menciptakan semua makhluk telah sempurna dengan pembagian rezekinya.Tidak ada satu pun yang akan ditelantarkan-Nya, termasuk kita. Karena itu, rezeki kita yang sudah,Allah SWT jamin pemenuhannya. Yang dibutuhkan adalah mau atau tidak kita mencarinya.
Yang lebih tinggi lagi benar atau tidak cara mendapatkannya.
Rezeki di sini tentu bukan sekadar uang. Ilmu, kesehatan, ketenteraman jiwa, pasangan hidup, keturunan, nama baik, persaudaraan, ketaatan termasuk pula rezeki, bahkan lebih tinggi nilainya dibanding uang. Walau demikian, ada banyak orang yang dipusingkan dengan masalah pembagian rezeki ini. “Kok rezeki saya seret banget, padahal sudah mati-matian mencarinya?”
“Mengapa ya saya gagal terus dalam bisnis?”
“Mengapa hati saya tidak pernah tenang?”
Ada banyak penyebab, mungkin cara mencarinya yang kurang profesional, kurang serius mengusahakannya, atau ada kondisi yang menyebabkan Allah Azza wa Jalla “menahan” rezeki yang bersangkutan. Poin terakhir inilah yang akan kita bahas. Mengapa aliran rezeki kita tersumbat? Apa saja penyebabnya?

Saudaraku, Allah SWT adalah Dzat Pembagi Rezeki. Tidak ada setetes pun air yang masuk ke mulut kita kecuali atas izin-Nya. Karena itu, jika Allah SWT sampai menahan rezeki kita, pasti ada prosedur yang salah yang kita lakukan.
Setidaknya ada lima hal yang menghalangi aliran rezeki.

Pertama, lepasnya ketawakalan dari hati. Dengan kata lain, kita berharap dan menggantungkan diri kepada selain Allah SWT . Kita berusaha, namun usaha yang kita lakukan tidak dikaitkan dengan-Nya. Padahal Allah SWT itu sesuai prasangka hamba-Nya. Ketika seorang hamba berprasangka buruk kepada Allah SWT , maka keburukan-lah yang akan ia terima.Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah SWT niscaya Allah SWT akan mencukupkan (keperluan) nya.
Demikian janji Allah SWT dalam QS Ath Thalaaq [63] ayat 3.

Kedua, dosa dan maksiat yang kita lakukan. Dosa adalah penghalang datangnya rezeki. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya seseorang terjauh dari rezeki disebabkan oleh perbuatan dosanya.” (HR Ahmad).
Saudaraku, bila dosa menyumbat aliran rezeki, maka tobat akan membukanya. Andai kita simak, doa minta hujan isinya adalah permintaan tobat, doa Nabi Yunus saat berada dalam perut ikan adalah permintaan tobat, demikian pula doa memohon anak dan Lailatul Qadar adalah tobat. Karena itu, bila rezeki terasa seret, perbanyaklah tobat, dengan hati, ucapan dan perbuatan kita.

Ketiga, maksiat saat mencari nafkah. Apakah pekerjaan kita dihalalkan agama? Jika memang halal, apakah benar dalam mencari dan menjalaninya? Tanyakan selalu hal ini. Kecurangan dalam mencari nafkah, entah itu korupsi (waktu, uang), memanipulasi timbangan, praktik mark up, dsb akan membaut rezeki kita tidak berkah. Mungkin uang kita dapat, namun berkah dari uang tersebut telah hilang. Apa ciri rezeki yang tidak berkah? Mudah menguap untuk hal sia-sia, tidak membawa ketenangan, sulit dipakai untuk taat kepada Allah SWT serta membawa penyakit. Bila kita terlanjur melakukannya, segera bertobat dan kembalikan harta tersebut kepada yang berhak menerimanya.

Keempat, pekerjaan yang melalaikan kita dari mengingat Allah SWT . Bertanyalah, apakah aktivitas kita selama ini membuat hubungan kita dengan Allah SWT makin menjauh? Terlalu sibuk bekerja sehingga lupa shalat (atau minimal jadi telat), lupa membaca Alquran, lupa mendidik keluarga, adalah sinyal-sinyal pekerjaan kita tidak berkah. Jika sudah demikian, jangan heran bila rezeki kita akan tersumbat. Idealnya, semua pekerjaan harus membuat kita semakin dekat dengan Allah SWT . sibuk boleh, namun jangan sampai hak-hak Allah SWT kita abaikan. Saudaraku, bencana sesungguhnya bukanlah bencana alam yang menimpa orang lain. Bencana sesungguhnya adalah saat kita semakin jauh dari Allah SWT .

Kelima, enggan bersedekah. Siapapun yang pelit, niscaya hidupnya akan sempit, rezekinya mampet. Sebaliknya, sedekah adalah penolak bala, penyubur kebaikan serta pelipat ganda rezeki. Sedekah bagaikan sebutir benih menumbuhkan tujuh bulir, yang pada tiap-tiap bulir itu terjurai seratus biji. Artinya, Allah SWT yang Maha kaya akan membalasnya hingga tujuh ratus kali lipat (QS Al Baqarah [2]: 261). Tidakkah kita tertarik dengan janji Allah SWT ini? Maka pastikan, tiada hari tanpa sedekah, tiada hari tanpa kebaikan. Insya Allah SWT , Allah SWT akan membukakan pintu-pintu rezeki-Nya untuk kita. Amin.

Akal adalah salah satu potensi manusia yang perlu kita syukuri. Salah satu cara bersyukur ialah mempergunakan akal kita sesuai dengan keinginan yang membuatnya, yaitu Allah SWT. Dengan akal, manusia memiliki kemampuan untuk memperoleh ilmu dan pengetahuan. Suatu kemampuan yang tidak dimiliki oleh makhluk lain.

Salah satu perintah Allah SWT kepada manusia ialah agar setiap tindakan dan tingkah lakunya berdasarkan ilmu.

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS.17:36)

Setiap tindakan atau perbuatan yang tidak berdasarkan ilmu akan membuat kita menjadi orang yang merugi di sisi Allah. Di akhirat kita akan masuk neraka.

“Dan mereka berkata: “Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala” . (QS.67:10)

Begitu juga di dunia, selain kita tersesat, hidup tanpa ilmu bagaikan berjalan di tempat yang sangat gelap, kita tidak tahu apa yang harus dilakukan, atau kalaupun ada hanya mengikuti orang lain saja yang belum tentu benar atau salahnya.

Tidak sedikit manusia yang tidak mau mengoptimalkan akalnya. Contohnya ialah orang-orang yang sudah tidak mau lagi menggunakan akalnya dalam mencari ilmu. Mereka merasa ilmunya sudah cukup untuk hidupnya. Mereka ungkapkan berbagai alasan agar tidak lagi belajar atau menuntut ilmu.

Jangankan untuk membuka buku, sekedar mendengarkan orang lain pun ada saja yang tidak mau. Padahal jika kita rajin mendengarkan orang lain, kita akan mendapatkan ilmu gratis yang tidak perlu susah payah mencarinya.

Marilah kita terus-meneruskan mengoptimalkan potensi akal kita agar tidak rugi baik dunia dan akhirat. Ingatkanlah saudara-saudara kita yang masih belum sadar akan hal ini. Nasib negara Indonesia akan sangat tergantung dari kualitas bangsanya sendiri.

(Ingati bila Sunyi, Rindui bila Jauh, Fahami bila Keliru, Nasehati bila Lalai dan Maafkan bila Terluka. Alangkah Indahnya ukhuwah bila sgalanya karena Allah SWT)

MENGUBAH “DREAM” MENJADI GOAL

Seberapa sering kita MENGINGINKAN atau MEMIMPIKAN sesuatu? Pasti sering sekali. Tapi seberapa sering kita MERENCANAKAN untuk memiliki sesuatu? Mungkin bisa dihitung dengan jari. Contohnya, kita pengin punya rumah suatu saat nanti, tanpa gambaran kapan suatu saat itu dan bagaimana mencapainya. Jarang kita berpikir “Aku ingin punya rumah di daerah X seharga Y dengan alasan Z dan insyaAllah akan dapat direalisasikan dalam waktu A dan dengan cara B”. Maka mengubah dream (mimpi) menjadi goal (tujuan yang jelas) itu menjadi satu langkah kunci dalam mewujudkan sebuah cita-cita. Dan kaitannya dalam kehidupan rumah tangga, langkah ini mau tidak mau harus disertai dengan financial planning alias perencanaan keuangan. Bagaimanakah financial planning itu? Dua kalimat slogan di bawah bisa jadi sedikit menggambarkannya dengan cukup tepat.
It is not about how much you earn money. But it is about how much you save!
Kalimat itu saya temukan dalam makalah kursus financial planning yang pernah saya ikuti. Kalimat itu juga pernah saya temukan di buku Rich Dad Poor Dad karya Robert T Kiyoshaki yang terkenal itu. Menurut pendapat sang Rich Dad (Ayah kaya) dalam buku itu, yang utama dalam urusan pendapatan/materi bukanlah seberapa banyak uang yang dapat dihasilkan/diperoleh, namun berapa banyak uang yang dapat ditabung dan diinvestasikan kembali.
Dua kalimat di atas cukup menginspirasi saya, meski dengan penekanan yang berbeda. Kalimat itu bagi saya berarti bahwa berapapun pendapatan kita, semestinya kita dapat mengelolanya dengan bijak sehingga selalu ada bagian yang dapat ditabung, untuk dapat digunakan pada saat yang tepat di masa depan. Dan untuk itu, perencanaan keuangan dan menabung adalah satu hal yang sangat penting bagi tiap orang. Seperti halnya manajemen diperlukan dalam kehidupan birokrasi, organisasi dan bisnis, manajemen keuangan adalah satu sarana mutlak dalam kehidupan rumah tangga. Manajemen keuangan tidak ditujukan untuk membuat kita menjadi kaya, namun agar segala potensi yang kita miliki dapat dimaksimalkan dan diatur sehingga kehidupan ekonomi seseorang menjadi pas-pasan dalam levelnya masing-masing. Pas butuh pas ada!
***
“Untuk biaya hidup sehari-hari saja kurang. Mana sempat berpikir untuk menabung!” Kalimat ini adalah sebuah kalimat yang biasanya tertancap dalam benak sebagian besar orang Indonesia yang telah berkeluarga. Kalimat ini pula yang biasanya keluar jika seseorang ditanya tentang berapa banyak dia menabung tiap bulannya. Paradigma ini membawa keluarga Indonesia pada budaya “hanya menabung jika ada selisih lebih antara pendapatan dan pengeluaran”. Maka sangat logis jika kebanyakan keluarga Indonesia tidak memiliki tabungan, bahkan lebih sering defisit karena pengeluaran lebih besar daripada pendapatan. Rumus yang biasanya berlaku adalah: Pendapatan – Pengeluaran = Selisih lebih (kurang). Bila lebih maka akan ditabung atau diinvestasikan kembali. Bila kurang? Ya, hutang.
Padahal Allah telah berfirman, bahwa dalam setiap harta kita (manusia) terdapat hak orang lain. Pada setiap harta kita, bukan pada setiap kelebihan harta kita. Bapak Iwan Pontjowinoto, seorang tokoh pasar modal syariah yang saat ini menjabat sebagai direktur utama PT Jamsostek memberikan interpretasi lanjutan atas ayat itu.
Pada dasarnya, setiap pendapatan yang kita peroleh mengandung empat hak:
Pertama adalah Hak Allah selaku wali dari fakir miskin yang harus ditunaikan pertama kali, yaitu dengan mengeluarkan ziswaf atas pendapatan kita kepada fakir miskin. Jadi, ziswaf tidak dikeluarkan dari kelebihan harta, namun dari setiap pendapatan yang kita peroleh.
Hak kedua yang mesti ditunaikan adalah hutang. Jika kita memiliki hutang kepada pihak lain, maka ia mesti mendapat alokasi nomor dua dari total pendapatan kita untuk dibayar/dilunasi setelah hak Allah. Sebab jika tidak, maka nyawa kita tergadai atas hutang itu. Dalam salah satu hadis disebutkan bahwa seorang muslim yang meninggal dengan meninggalkan hutang, maka nyawanya tergadai sampai dengan hutang itu dilunasi.
Hak ketiga adalah hak masa depan keluarga kita. Allah lebih menyukai seorang muslim yang meninggalkan keluarganya dalam kondisi tidak berkekurangan. Konsekuensinya, menabung untuk masa depan menjadi sebuah kebutuhan yang harus dialokasikan dengan prioritas ketiga setelah ziswaf dan pembayaran hutang. Baru selebihnya adalah hak masa sekarang, yaitu biaya hidup sehari-hari. Dan biaya sehari-hari ini, besarnya relatif, tergantung kepada sisa yang dimiliki oleh yang bersangkutan. Dengan paradigma seperti ini, maka rumus di atas akan berubah menjadi seperti ini: Pendapatan – Zakat — Angsuran Hutang (jika ada) –Tabungan = Pengeluaran
Di sinilah sesungguhnya kunci dari perencanaan keuangan: Bagaimana kita mengatur pendapatan agar keempat hak itu dapat dipenuhi secara adil, sesuai dengan proporsinya. Proporsi itu, tentu saja akan sangat berbeda bagi masing-masing orang, namun barangkali rumus berikut dapat digunakan.
Pertama, dari pendapatan kotor yang kita peroleh, alokasikan sejumlah tertentu untuk ziswaf. Kita semua sudah tahu, minimal 2,5% kan? Lebih banyak akan lebih bagus, tapi sebaiknya realistis, jangan terlalu berlebihan juga.
Kedua, jika kita memiliki hutang atau kewajiban lain, alokasikan juga jumlah yang sesuai dengan jumlah angsuran atau kewajiban dimaksud. Jangan ditunda kecuali sangat sangat terpaksa. Oh ya, ada dua prinsip dalam urusan hutang menghutang. Hutang/Kredit diperkenankan untuk hal-hal yang bersifat investasi atau jangka panjang seperti rumah. Sedang hutang barang konsumtif, sebaiknya dihindari. Jika sudah terlanjur memiliki hutang kartu kredit misalnya, segera lunasi.
Ketiga, alokasikan sejumlah uang tertentu untuk ditabung. Jika dapat, tabung sejumlah yang kira-kira dalam jangka waktu tertentu akan memenuhi kebutuhan yang jatuh tempo atau kita butuhkan pada waktu tertentu tersebut. Namun jika tidak, berapa pun jumlahnya, yang penting ada jumlah minimal untuk ditabung. Upayakan pula jumlah minimal tabungan kita jaga dalam batas yang dapat digunakan sebagai dana darurat jika suatu saat kita mendadak butuh.
Seperti membangun sebuah rumah, perencanaan keuangan itu seperti market yang siap direalisasi. InsyaAllah

Ali bin Abi Talib r.a berkata : Sewaktu Rasullullah S.A.W duduk bersama para sahabat Muhajirin dan Ansar, maka dengan tiba-tiba datanglah satu rombongan orang-orang Yahudi, lalu berkata: Ya Muhammad, kami hendak tanya kepada kamu kalimat-kalimat yang telah diberikan oleh Allah kepada Nabi Musa A.S.yang tidak diberikan kecuali kepada para Nabi utusan Allah atau malaikat muqarrab.’ Lalu Rasullullah S.A.W.bersabda: ‘Silahkan bertanya.’

Berkata orang Yahudi:’Silahkan terangkan kepada kami tentang 5 waktu yang diwajibkan oleh Allah ke atas umatmu.’ Sabda Rasullullah S.A.W.:

‘Sembahyang Zuhur jika tergelincir matahari, maka bertasbihlah segala sesuatu kepada TuhanNya, Sembahyang Asar itu ialah saat ketika Nabi Adam A.S. memakan buah Khuldi, Sembahyang Maghrib itu adalah saat Allah menerima taubat Nabi Adam A.S.,maka setiap mukmin yang bersembahyang Maghrib dengan ikhlas kemudian dia berdoa meminta sesuatu pada Allah maka pasti Allah akan mengkabulkan permintaannya. Sembahyang Isya’ itu ialah sembahyang yang dikerjakan oleh para Rasul-Rasul sebelumku, Sembahyang Subuh adalah sebelum terbit matahari, ini kerana apabila matahari terbit, terbitnya di antara dua tanduk syaitan dan di situ sujudnya tiap orang kafir.’

Setelah orang Yahudi mendengar penjelasan dari Rasullullah S.A.W. maka mereka berkata: ‘Memang benar apa yang kamu katakan itu Muhammad,katakanlah kepada kami apakah pahala yang akan di dapati oleh orang yang sembahyang.

Rasullullah S.A.W bersabda: ‘Jagalah waktu-waktu sembahyang terutama sembahyang yang pertengahan, Sembahyang Zuhur, pada saat itu nyalanya neraka Jahanam, orang mukimin yang mengerjakan sembahyang pada ketika itu akan diharamkan ke atasnya wap api neraka Jahanam pada hari Kiamat.’ Sabda Rasullullah S.A.W. lagi: ‘Manakala sembahyang Asar, adalah saat di mana Nabi Adam A.S. memakan buah Khuldi. Orang mukmin yang mengerjakan sembahyang Asar akan diampunkan dosanya seperti bayi yang baru lahir.’ Setelah itu Rasullullah S.A.W. membaca ayat yang bermaksud:’Jagalah waktu-waktu sembahyang terutama sekali sembahyang yang pertengahan,sembahyang Maghrib itu adalah saat di mana taubat Nabi Adam A.S. diterima. Seorang mukmin yang ikhlas mengerjakan sembahyang Maghrib kemudian meminta sesuatu dari Allah maka Allah akan perkenankan.
‘Sabda Rasullullah S.A.W. : ‘Sembahyang Isya’ (atamah). Katakan kubur itu adalah sangat gelap dan begitu juga pada hari Kiamat, maka seorang mukmin yang berjalan dalam malam yang gelap untuk pergi menunaikan sembahyang Isya’ berjamaah, Allah S.W.T. haramkan dari terkena nyalanya api neraka dan diberinya cahaya untuk menyeberangi titi sirath.
‘ Sabda Rasullullah S.A.W. seterusnya: ‘Sembahyang Subuh pula, seorang mukmin yang mengerjakan sembahyang subuh selama 40 hari secara berjamaah,diberi oleh Allah S.W.T. dua kebebasan yaitu:

1. Dibebaskan dari api neraka.

2. Dibebaskan dari nifaq.

Setelah orang Yahudi mendengar penjelasan dari Rasullullah S.A.W. maka mereka berkata: ‘Memang benarlah apa yang kamu katakan itu wahai Muhammad (S.A.W). Kini katakan pula kepada kami semua kenapakah Allah S.W.T. mewajibkan puasa 30 hari ke atas umatmu?’.
Sabda Rasullullah S.A.W.: ‘Ketika Nabi Adam memakan buah pohon yang dilarang,lalu makanan itu tersangkut dalam perut Nabi Adam A.S.selama 30 hari. Kemudian Allah S.W.T. mewajibkan ke atas keturunan Adam A.S. berlapar selama 30 hari. Sementara izin makan di waktu malam itu adalah sebagai kurnia Allah S.W.T. kepada makhlukNya.’
Kata orang Yahudi: ‘Wahai Muhammad, memang benarlah apa yang kamu katakan itu. Kini terangkan kepada kami ganjaran pahala yang diperolehi dari puasa itu.’ Sabda Rasullullah S.A.W.: ‘Seorang hamba yang berpuasa dalam bulan Ramadhan dengan ikhlas kepada Allah S.W.T. dia akan diberi oleh Allah S.W.T. tujuh perkara:

1. Akan dicairkan daging haram yg tumbuh dari badannya (daging yang tumbuh dengan makanan yang haram).
2. Rahmat Allah sentiasa dekat dengannya.
3. Diberi oleh Allah sebaik-baik amal.
4. Dijauhkan dari merasa lapar dan haus.
5. Diringankan baginya siksa kubur (siksa yang sangat mengerikan).
6. Diberikan cahaya oleh Allah S.W.T. pada hari Kiamat untuk menyeberang titian sirath.
7. Allah S.W.T. akan memberinya kemudian di syurga.
‘ Kata orang Yahudi: ‘Benar apa yang kamu katakan itu Muhammad. Katakan kepada kami kelebihanmu antara semua para nabi-nabi.’ Sabda Rasullullah S.A.W.:’Seorang nabi mengunakan doa mustajabnya untuk membinasakan umatnya, tetapi saya tetap menyimpankan doa saya (untuk saya gunakan memberi syafaat pada umat saya di hari kiamat).’ Kata orang Yahudi: ‘Benar apa yang kamu katakan itu Muhammad, kini kami mengakui dengan ucapan Asyhadu Alla illaha illallah, wa annaka Rasulullah (kami percaya bahawa tiada Tuhan kecuali Allah dan engkau utusan Allah).’ “Dan sesungguhnya akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah2an. Dan berilah berita gembira kepada orang2 yang sabar.” (Al-Baqarah : 155)
Disebutkan di dalam satu riwayat, bahawasanya apabila para makhluk dibangkitkan dari kubur, mereka semuanya berdiri tegak di kubur masing masing selama 44 tahun UMUR AKHIRAT dalam keadaan TIDAK MAKAN dan TIDAK MINUM, TIDAK DUDUK dan TIDAK BERCAKAP.

Bertanya orang kepada Rasulullah saw :”Bagaimana kita dapat mengenali ORANG-ORANG MUKMIN kelak di hari qiamat?” Maka jawabnya Rasulullah saw,”Umat dikenal karena WAJAH mereka putih disebabkan oleh WUDHU’.” Bila qiamat datang maka malaikat datang kekubur orang mukmin sambil membersihkan debu di badan mereka KECUALI pada tempat sujud. Bekas SUJUD tidak dihilangkan. Maka memanggillah dari zat yang memanggil. Bukanlah debu itu dari debu kubur mereka, akan tetapi debu itu ialah debu KEIMANAN mereka. Oleh itu tinggallah debu itu sehingga mereka melalui titian Siratul Mustaqim dan memasuki alam syurga, sehingga setiap orang melihat para mukmin itu mengetahui bahwa mereka adalah pelayan Ku dan hamba-hambaKu.

Disebutkan oleh hadith Rasulullah saw bahwa sepuluh orang yang mayatnya TIDAK BUSUK dan TIDAK REPUT dan akan bangkit dalam tubuh asal diwaktu mati:
1. Para Nabi

2. Para Ahli Jihad
3. Para Alim Ulama
4. Para Syuhada
5. Para Penghafal Al Quran
6. Imam atau Pemimpin yang Adil
7. Tukang Azan
8. Wanita yang mati kelahiran/beranak

9. Orang mati dibunuh atau dianiaya
10. Orang yang mati di siang hari atau di malam Jumaat jika mereka itu dari kalangan orang yang beriman.

Di dalam satu riwayat yang lain dari Jabir bin Abdullah ra sabda Rasulullah saw:

Apabila datang hari qiamat dan orang orang yang berada di dalam kubur dibangkitkan maka Allah swt memberi wahyu kepada Malaikat Ridhwan : ‘Wahai Ridhwan, sesungguhnya Aku telah mengeluarkan hamba-hamba Ku berpuasa (ahli puasa) dari kubur mereka di dalam keadaan letih dan dahaga. Maka ambillah dan berikan mereka segala makanan yang digoreng dan buah buahan syurga. Maka Malaikat Ridhwan menyeru, wahai sekelian kawan-kawan dan semua anak-anak yang belum baligh, lalu mereka semua datang dengan membawa dulang dari nur dan berhimpun dekat Malaikat Ridhwan bersama dulang yang penuh dengan buahan dan minuman yang lazat dari syurga dengan sangat banyak melebihi daun-daun kayu di bumi. Jika Malaikat Ridhwan berjumpa mukmin maka dia memberi makanan itu kepada mereka sambil mengucap sebagaimana yang difirman oleh Allah swtdi dalam Surah Al-Haqqah bermaksud :”Makan dan minumlah dengan sedap disebabkan AMAL yang telah kamu kerjakan pada HARI yang telah LALU itu.”

* Tolong sebarkan kisah ini kepada saudara Islam yang lain. Ilmu yang bermanfaat ialah salah satu amal yang kekal bagi orang yang mengajarnya meskipun dia sudah mati. “Dan (ingatlah) Allah sentiasa mengetahui dengan mendalam akan apa jua yang kamu lakukan.” (Surah Al-Baqarah : 237 )