Pernahkah kita memikirkan sebuah situasi seperti ini. Ada acara syukuran besar yang akan diadakan di sebuah kampung. Seluruh kampung diundang. Maka sebulan sebelum syukuran itu berlangsung, orang2 sudah bekerja keras. Saling bahu membahu menyiapkan keperluan, selalu datang, rajin membantu. Hingga hari syukuran tiba.

Maka, apakah kita tidak akan jengkel melihat orang2 yang tidak pernah datang, tidak pernah ikutan bantu bekerja, tidak pernah peduli dengan acara syukuran tersebut sebulan terakhir, ternyata malah ketika hari H-nya dia justru duduk paling depan, bergaya sekali dgn baju paling keren, seolah dia selalu datang selama ini?

Kita pasti jengkel.

Tapi tidak bagi Allah. Sungguh kasih sayang Allah lebih dari berlimpah pun untuk orang2 seperti ini. Setahun penuh tidak pernah mengunjungi masjid, tidak pernah shalat, bodo amat dengan perkara shalat, ketika lebaran tiba, dia justru berdiri paling depan, paling bergaya. Allah tetap sayang padanya. Tidak ada larangan. Malah disambut.

Tidakkah kita memperhatikan, orang2 yang bertahun-tahun zalim, mencuri uang, korup, lihatlah. Kita sudah benci hingga ubun2, ingin rasanya nabok. Tapi Allah tetap sayang padanya. Tidak ada petir yang menyambar, bumi tidak dibalik hingga orang2 zalim ini terhimpit. Tidak. Bahkan tetap diberikan kesehatan, kemudahan, keluarga yang baik. Allah tetap sayang padanya. Allah bahkan membiarkan orang ini berbangga diri kalau semua sukses karena dirinya.

Apakah Allah langsung membuatnya sakit parah, kemudian koit? Terkena kanker? Apakah Allah seketika mengirimkan hukuman? Tidak. Bahkan Allah tetap memberikan kesegaran, aktivitas yang menyenangkan. Allah tetap sayang padanya. Allah bahkan membiarkan orang2 ini petantang petenteng seolah sehat adalah urusan miliknya.

Tidakkah kita memperhatikan?

Wahai Allah, tidak terhitung kasih sayang Engkau. Setiap hari Engkau menurunkan kebaikan kepada kami; tapi lihatlah kami justeru setiap hari menaikkan keburukan kami kepada Mu. Jikalau tidak karena kasih sayangMu, aib-aib kami akan terbuka lebar, keburukan kami akan terpentang busuk, dusta-dusta kami, rencana2 jahat kami, hingga perbuatan2 nyata yang kami lakukan secara sembunyi2. Tapi Engkau tutup sebagian besar dari pandangan manusia.

Wahai Allah, tidak terhitung Engkau beri kesempatan kedua, ketiga bahkan keseribu kali kepada kami. Engkau beri penangguhan waktu yang lama kepada kami, sebelum tiba hari tiada lagi maaf dan tobat diterima. Sungguh tak terhingga kasih sayang Engkau. Maka semoga hati bebal ini, hati yang hitam berbintik2 ini sempat menyadarinya dan mulai memperbaiki diri sebelum terlambat. Maka semoga hati kami semua masih sempat dipenuhi keinsyafan.

Sungguh, sebaik-baiknya bekal akhirat yang akan kami bawa adalah ketakwaan. Iman, islam dan ihsan. Dan sebaik-baiknya perkara di dunia yang ada adalah akhlak baik dan kebermanfaatan. Marilah menyeru pada kebaikan, mencegah pada kemungkaran.